KABAR / Artikel

Mudik, Nawa Cita, dan Program Kependudukan & KB

26 Juni 2018 13:24 WIB

Bagi banyak orang di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia, berpindah dari kota asal atau kampung halaman merupakan pilihan terbaik –bahkan terkadang merupakan satu-satunya. Sebagian pemudik juga barangkali beranggapan migrasi dapat menjadi cara efektif untuk meningkatkan penghasilan, tingkat pendidikan dan partisipasi individu dan keluarga, serta memperbaiki prospek anak-anak di masa depan. Akibatnya penduduk perkotaan mengalami peningkatan signifikan.

Di tengah masyarakat urban seperti itu, menurut Plt. Kepala BKKBN Sigit Priohutomo, mudik merupakan sebuah fenomena sosial. Fenomena yang kerap terjadi pada masyarakat perkotaan dengan latar belakang penduduknya merupakan pendatang seperti Jakarta. Mudik memiliki makna sebagai eksistensi masyarakat dalam suatu bangsa akan nilai kesadaran kolektif yang tidak pernah melupakan jati-dirinya dan kampung halaman tempat ia berasal.

Setiap tahun, demikian Sigit saat melepas peserta Mudik Bareng BKKBN 2018 di halaman BKKBN Halim Perdanakusuma, beberapa waktu lalu, peristiwa mudik lebaran menjadi momentum yang tepat untuk mengingatkan kembali pemangku kepentingan dan masyarakat luas tentang permasalahan kependudukan. Banyak pihak hanya memandang peristiwa mudik lebaran semata dari aspek budaya, sebagai ritual tahunan para migran untuk melepas rindu kepada kampung halaman.

Padahal, peristiwa itu erat kaitannya dengan permasalahan kependudukan, terutama urbanisasi. Penduduk usia produktif yang tidak tertampung oleh lapangan kerja di daerah asal atau alasan lain yang menyangkut pekerjaan di daerah asal yang tidak sesuai dengan ekspektasi pribadinya, memilih untuk berbondong-bondong bermigrasi ke kota-kota besar, kota dengan laju pembangunan lebih pesat yang diikuti oleh pertumbuhan ekonomi sehingga terbuka banyak kesempatan kerja.

Urbanisasi bisa memunculkan berbagai dampak. Karenanya, betapa penting peran keluarga dalam menjalankan fungsi-fungsi keluarga. Dari Delapan Fungsi Keluarga, yakni Fungsi Keagamaan, Sosial Budaya, Cinta Kasih, Perlindungan, Reproduksi, Sosialisasi dan Pendidikan, Ekonomi, dan Pembinaan Lingkungan, jelas bahwa Fungsi Keagamaan sangat penting. Peran orangtua sangat penting dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan melalui perilaku sehari-hari, termasuk dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

“Melalui penanaman fungsi-fungsi tersebut, kita semua berharap akan berkontribusi dalam implementasi revolusi mental yang digagas oleh Presiden Joko Widodo dan telah menjadi Agenda Prioritas Pembangunan,” ujar Sigit.

 

Nawa Cita

Pada era ini, BKKBN adalah salah satu lembaga yang mendapatkan mandat untuk mewujudkan 9 Agenda Prioritas Pembangunan (Nawa Cita) 2015-2019. Melalui program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK), BKKBN turut mendukung terutama Cita ke-3: “Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam rangka negara kesatuan”, dan Cita ke-5 “meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia”, dan Cita ke-8 “melakukan revolusi karakter bangsa”.

Sesuai dengan Cita ke-3, program KKBPK harus dapat menjangkau wilayah-wilayah dengan kriteria miskin, padat penduduk, wilayah nelayan, daerah kumuh, dan daerah tertinggal lainnya. Hal ini dilakukan agar masyarakat yang tinggal di daerah-daerah tersebut dapat merasakan manfaat kegiatan program KKBPK secara langsung. Salah satu upaya tersebut berupa pembentukan Kampung KB, yang telah dicanangkan oleh Presiden Jokowi pada 14 Januari 2016 yang lalu.

Untuk mewujudkan Cita ke-5, program KKBPK harus dapat berkontribusi terhadap upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia agar menjadi modal pembangunan yang memiliki daya saing dalam menghadapi globalisasi dan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Bukan sebaliknya, malah menjadi beban pembangunan. Pelayanan KB diberikan dengan memperhatikan siklus usia reproduksi sementara program Pembangunan Keluarga menggunakan pendekatan siklus kehidupan.

Program KKBPK juga turut mendukung Cita ke-8. Namun, revolusi karakter bangsa tidak akan berjalan optimal tanpa diawali dengan inisiatif melakukan Revolusi Mental. Menurut Bung Karno, Revolusi Mental adalah “gerakan hidup baru untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, dan berjiwa api yang menyala-nyala.”

Dalam Strategi Pembangunan Nasional (Dimensi Pembangunan) 2015-2019, BKKBN mempunyai peran pada Dimensi Pembangunan Manusia (Dimensi Pembangunan Kesehatan dan Mental/Karakter). Dengan demikian, BKKBN harus turut berkontribusi dalam pelaksanaan Revolusi Mental.

Bentuk kontribusi BKKBN tersebut berupa inisiatif melakukan Revolusi Mental berbasis Pancasila melalui keluarga. Inisiatif BKKBN ini diwujudkan dengan diawali penyusunan buku “Revolusi Mental Berbasis Pancasila Melalui Keluarga”. Buku tersebut telah diluncurkan bertepatan dengan Kongres Keluarga Indonesia (KKI) di kantor BKKBN pada 2 Juni 2016.

Revolusi Mental berbasis Pancasila berarti Revolusi Mental dilakukan berdasarkan sila-sila Pancasila: sila ke-1 Ketuhanan Yang Maha Esa, yaitu komunikasi transedental spiritual (nilai integritas); sila ke-2 kemanusiaan yang adil dan beradab, yaitu komunikasi intrapersonal (nilai etos kerja), sila ke-3 persatuan Indonesia, yaitu komunikasi interpersonal, berkepribadian merdeka, dan demokratis (nilai gotong royong), sila ke-4 kerakyatan yang di­pimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan (berdaulat); dan sila ke-5 keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (berdikari).

Dengan demikian, Gerakan Nasional Revolusi Mental adalah bagian dari Revolusi Pancasila dengan mempraktikkan sila-sila Pancasila dalam kehidupan pribadi, keluarga, bermasyarakat, dan bernegara. Pelaksanaan Revolusi Mental akan mendukung revolusi karakter bangsa secara optimal untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat secara politik; berdikari secara ekonomi; dan berkepribadian secara sosial budaya.

Karakter sendiri terbentuk sebagai hasil pemahaman tiga hubungan yang pasti dialami setiap manusia (triangle relationship), yaitu hubungan dengan diri sendiri (intrapersonal), dengan lingkungan (hubungan sosial dengan alam sekitar), dan hubungan dengan Tuhan YME (spiritual).

Lalu, dari mana bangsa Indonesia harus memulai Revolusi Mental? Dalam artikelnya yang berjudul Revolusi Mental di Kompas, 10 Mei 2014, Presiden Jokowi menjawab bahwa Revolusi Mental harus dimulai “... dari masing-masing kita sendiri, dimulai dengan lingkungan keluarga ...”

Mengapa Revolusi Mental harus dimulai dari tingkat keluarga? Karena keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat sekaligus wahana pertama dan utama bagi penyemaian karakter bangsa. Keluarga adalah pilar pembangunan bangsa.

Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang mempunyai peranan penting dalam memenuhi kebutuhan “asah, asih, dan asuh“. Karena itu, keluarga menjadi ajang yang paling sempurna untuk menanamkan ketiga nilai Revolusi Mental, yaitu integritas, etos kerja, dan gotong royong, dan membangun karakter sejak dini.

 

(Ditvokom BKKBN/icha/sara)

Bagikan:

Kegiatan

Logo Harganas Single
Info Medsos dan Web

Konten Terkait

FOLLOW, LIKE, SHARE