KABAR / Artikel

Mempererat Ikatan Keluarga dari Meja Makan

29 April 2019 13:51 WIB

“Kenapa keluarga masa kini sangat mudah dipecah-belah, kenakalan remaja, pornografi, narkoba meningkat, dan terjadi perceraian di sana-sini? Semua ini terjadi karena kurangnya komunikasi dan waktu bincang-bincang di keluarga, bahkan untuk sekadar makan bareng” (Roslina Verauli, Psikolog).

Kita berada di era revolusi industri 4.0. Revolusi Industri 4.0 menjadi harapan sekaligus tantangan bagi keluarga di Indonesia. Keluarga kini dituntut untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi yang semakin berkembang dan mempengaruhi kehidupan setiap anggotanya secara struktural maupun kultural. 

Era Industri 4.0 ditandai dengan aktivitas dan mobilitas setiap anggota keluarga yang tinggi yang menyebabkan waktu berkumpul bersama keluarga semakin terbatas bahkan hampir tidak ada. Padahal para pakar menyebutkan waktu bersama keluarga adalah adalah dasar untuk membentuk keeratan dan keluarga harmonis.

Keluarga yang harmonis, damai penuh cinta kasih dan rasa keamanan merupakan wahana yang baik bagi pertumbahan dan perkembangan anak termasuk perkembangan psikologi. Sebaliknya, penelitian menunjukan anak yang tumbuh dari keluarga yang kacau, rapuh, tidak terdapat rasa aman, anak cenderung memiliki rasa empati, toleransi yang kurang dan anak bersifat agresif.

Di tengah-tengah mobilitas orang tua yang tinggi, ada semangat untuk mengatur waktu bersama agar keharmonisan keluarga tetap terjaga. Namun, karena tuntutan pekerjaan semangat hanya tinggal semangat. Peran dan fungsi orang tua tidak optimal.

Peran ayah dan ibu sebagai instruktur, pendamping anak-anaknya tidak berjalan maksimal. Ayah dan ibu sebagai panutan gagal ditunjukkan. Pada saat berkumpul sebagai besar waktu dihabiskan di depan layar TV atau ponsel pintar masing-masing. Anak terlalu asyik berselancar di dunia maya mencari hiburan, begitu pula dengan anggota keluarga lainnya.

Lantas bagaimana mengatasinya? Apakah cukup lewat emotikon, emoji, dan video call? Teknologi yang semakin canggih telah menghubungkan antar-individu secara real time dan tidak terkendala jarak dan waktu. Kita bisa menelepon, menuliskan pesan teks, mengirim email, teleconference, bahkan berkomunikasi visual dengan Skype. Semua ini membuat kita semakin merasa berkomunikasi dengan peralatan modern ini sudah "cukup" sehingga melupakan pembicaraan yang benar-benar tatap muka secara fisik.

Seorang pengamat keluarga pernah menyatakan interaksi yang paling intensif terjadi bila orang saling menyentuh. Meskipun teknologi informasi menawarkan banyak peranti canggih, tetapi tidak sampai memenuhi esensi kebutuhan orang akan komunikasi: adanya sentuhan fisik dan emosi yang hanya didapat jika bertatap muka, berada dalam satu waktu dan ruang yang sama. Sentuhan fisik dan ekspresi emosi tidak bisa diketik atau diwakilkan dengan emotikon, emoji, bahkan video call sekalipun.

Sebuah studi yang dilakukan pada 2015 lalu menunjukkan bahwa budaya berkumpul dan makan bersama keluarga sudah mulai terkikis (Ibrahim, dalam Triananda, 2015). Sebanyak 20 persen dari 1.165 responden mengaku jarang makan bersama keluarga di rumah.

Lima dari 10 pria mengaku tak punya waktu untuk makan bersama keluarga di rumah karena terlalu sibuk. Alasan serupa ditemui pada responden remaja. Sekitar 26 persen responden remaja mengaku sibuk dan bosan dengan menu yang disajikan menjadi alasan mereka enggan makan di rumah bersama keluarga.

Gerakan Kembali Ke Meja Makan adalah upaya bersama untuk mengingatkan kembali keluarga-keluarga Indonesia akan pentingnya meluangkan waktu untuk berkumpul dan berkomunikasi bersama anggota keluarga. Kata "meja makan" bukan berati harus adanya meja makan, tetapi mengandung makna menggunakan kesempatan/momentum makan untuk berkumpul dan berkomunikasi.

Mengapa pada saat makan? Karena pada umumnya ada kesamaan waktu makan, yaitu pagi (sarapan), siang (makan siang), dan malam (makan malam). Tiga kali sehari dan 21 kali dalam seminggu. Akan lebih baik jika waktu-waktu makan tersebut digunakan oleh keluarga-keluarga Indonesia untuk berkumpul (makan bersama) dan berkomunikasi.

Momentum/kesempatan makan bersama dapat digunakan keluarga-keluaga Indonesia untuk berkomunikasi langsung (bertatap muka). Komunikasi dapat dilakukan sebelum atau sesudah makan, bukan pada saat makan (mengunyah makanan) sehingga sama sekali tidak bertentangan dengan kearifan lokal yang meyakini "tidak baik/etis makan sambil berbicara".

Makan bersama keluarga di rumah adalah momen kebersamaan yang sangat berharga. Meski terdengar sederhana, tetapi kegiatan ini menyimpan dampak positif yang bisa membantu menguatkan keharmonisan keluarga dan menentukan eratnya hubungan antar-anggota keluarga. Apabila dijadikan kebiasaan sehari-hari, anak-anak akan tumbuh sehat karena relasi keluarganya yang sehat (Ibrahim, dalam Triananda, 2015).

Karena itu luangkan 15-30 menit, tidak ada waktu tertentu yang harus diluangkan keluarga untuk berkumpul bersama para anggota keluarganya. Namun setidaknya luangkanlah sekitar 15-30 menit (Ibrahim, dalam Triananda, 2015). Pendapat lainnya menyebutkan cukup dengan meluangkan sekitar 20 menit dalam sehari (Surapaty, 2015).

Dengan tersedianya segala macam fasilitas komunikasi, seseorang perlu sebuah strategi berkomunikasi. Kitalah yang perlu memilih dan menentukan waktu berkomunikasi. Kita yang perlu bisa memutuskan untuk mengubah ponsel pintar ke mode “silent” atau “switch off” pada waktu “me time” dan pada saat berinteraksi dengan keluarga (family time).

Manfaat berkumpul dengan keluarga adalah membangun ketahanan keluarga. Sebuah studi yang dimuat jurnal Family Relations menyebutkan, keluarga yang sering melakukan kegiatan bersama akan memiliki ikatan emosional kuat dan dapat beradaptasi dengan baik yang akhirnya akan membangun ketahanan keluarga. Melakukan hobi bersama, berolahraga, menonton film, dan membaca buku merupakan contoh kegiatan yang mampu menciptakan keluarga harmonis.

Kebersamaan dengan keluarga membuat anak dan remaja tidak merasa canggung dengan orang tua mereka sendiri. Dengan sering melakukan kegiatan bersama, komunikasi yang terjalin akan lebih baik.

Makan bersama dapat menjadi sarana dalam meningkatkan komunikasi antar-anggota keluarga. Percakapan di meja makan dapat membangun hubungan yang baik di dalam keluarga dan menciptakan adanya keterbukaan. Orang tua dapat memberikan masukan maupun solusi kepada masalah yang tengah dihadapi anak, maupun mengetahui aktivitas anak di luar rumah.

Waktu berkumpul merupakan momen yang tepat bagi orang untuk menanamkan nilai-nilai karakter kepada anak. Mengajarkan dan mengingatkan fungsi keluarga seperti fungsi agama, pendidikan akan membantu membangun disiplin, kejujuran yang merupakan nilai-nilai integritas.

Sering beraktivitas bersama orangtua akan membuat anak merasa dihargai. Ia pun memiliki pandangan yang lebih positif dan percaya diri. Kondisi ini tentu akan berdampak baik pada prestasi mereka di sekolah.

Anak-anak dan remaja yang menghabiskan lebih banyak waktu dengan orangtua cenderung tidak berhubungan dengan kebiasaan negatif. Menurut sebuah studi yang dilakukan University of Minnesota pada 2008, remaja yang makan malam dengan keluarga sebanyak lima kali atau lebih dalam sepekan cenderung terhindar dari risiko penyalahgunaan NAPZA, dibandingkan remaja yang kurang dari dua kali sepekan makan malam bersama keluarga.

Waktu yang dihabiskan bersama keluarga akan menciptakan momen bahagia yang akan terus dikenang. Anak yang tumbuh dalam keluarga bahagia cenderung bisa menciptakan lingkungan penuh kasih yang sama untuk calon anak-anaknya kelak.

Makan bersama keluarga terbukti memberikan asupan nutrisi yang baik kepada anak–anak untuk pertumbuhan mereka. Pola makan yang lebih teratur dan kandungan nutrisi dan vitamin yang lebih diperhatikan ibu saat memasak akan lebih menyehatkan bagi anak-anak dan meningkatkan semangat mereka untuk beraktivitas.

Karena itu, saya mendorong gerakan kembali ke meja makan. Menjelang Hari Keluarga Nasional XXVI Tahun 2019, yang merupakan momentum bagi keluarga-keluarga Indonesia untuk mengingat kembali arti penting keluarga, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengimbau kepada keluarga-keluarga Indonesia untuk ikut berpartisipasi dalam Gerakan Kembali Ke Meja Makan dengan “meluangkan waktu untuk berkumpul dan menjalin komunikasi bersama keluarga minimal 15 menit”.

 

TENTANG PENULIS

Muhammad Yani. Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KS-PK) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Bagikan:

Kegiatan

Logo Harganas Single
Info Medsos dan Web

Konten Terkait

FOLLOW, LIKE, SHARE