KABAR / Berita Daerah

Harganas di Negeri Nyiur Melambai

26 Juni 2018 12:52 WIB

Tahun ini Provinsi Sulawesi Utara, tepatnya Kota Manado, ditetapkan sebagai lokasi penyelenggaraan puncak peringatan Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018. Optimisme sukses digantung Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey dan Walikota Manado Vicky Lumentut.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Pemprov Sulut) dan Pemerintah Kota (Pemkot) Manado siap menjadi tuan rumah peringatan Hari Keluarga Nasional XXV. Kesiapan itu telah dilaporkan Gubernur kepada Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, di Jakarta, belum lama ini.

Presiden Joko Widodo dijadwalkan akan menghadiri Hari Keluarga Nasional (Harganas) di Manado, menyempurnakan seluruh rangkaian acara yang dipadati setidaknya 12.000 tamu undangan. “Yang pasti kami, saya dan juga warga Sulawesi Utara sangat senang dan bangga bahwa daerah kami, terutama Kota Manado, telah dipercaya untuk menjadi tuan rumah peringatan Hari Keluarga Nasional XXV tahun ini,” kata Gubernur Olly.

Olly meyakini warga Sulut akan membuktikan bahwa semboyan se­bagai Negeri Nyiur Melambai, dengan keramahtamahannya akan dilihat langsung oleh para tamu yang berdatangan dari seluruh pelo­sok Tanah Air. Akan semakin banyak para tamu akan melihat langsung betapa indahnya Sulawesi Utara, terutama Kota Manado, sebagai ibukota provinsi.

“Sebagai Gubernur yang telah menjabat dua tahun, saya tegaskan ikon Sulawesi Utara adalah pariwisata. Teman-teman dari Sabang hingga Merauke, termasuk para pimpinan dari seluruh Indonesia; silakan me­nik­mati program-program pariwisata di Sulawesi Utara,” tuturnya.

Beberapa waktu lalu, isteri Gubernur Sulut, Rita Dondokambey Tamuntuan, selaku Ketua Umum TP PKK Sulut, usai rapat koordinasi di BKKBN, Jakarta; ketika ditanya Jurnal Keluarga, mengemukakan pihaknya juga akan memanfaatkan keindahan alam dan keramahtamahan warga Sulawesi Utara, khususnya Manado sebagai daya pikat.

“Kami telah mempersiapkan Manado untuk menyambut saudara-saudara kami
dari seluruh Indonesia. Sebagai tuan rumah, kami akan berusaha menerima mereka sebaik mungkin. Silakan menikmati keindahan Sulawesi Utara dan sekaligus keanekaragaman kulinernya,” kata Rita ketika itu.

Dengan diselenggarakan peringatan Harganas XXV tahun ini di Manado, menurut gubernur; keluarga keluarga di Sulawesi Utara akan mem­per­lihat­kan tata kehidupan sehari-hari yang penuh dengan kerukunan dan toleransi antarkeluarga. “Toleransi kami yang sangat tinggi akan dili­hat langsung,” tambahnya.

 

Dongkrak Wisata & Kuliner

Walikota Manado, Vicky Lumentut, ketika menerima kunjungan Jurnal Keluarga untuk sebuah wawancara eksklusif, beberapa waktu lalu, mengemukakan hal senada. Harapannya, penyelenggaraan Harganas 2018 semakin mendongkrak destinasi wisata dan beragam kuliner di Kota Manado.

Bilamana tamu undangan tak tertampung di berbagai hotel, – maklum tingkat hunian hotel di Manado 80-90 persen sebagai dampak dibukanya rute penerbangan langsung China-Kota Manado – Vicky mengatakan pihaknya telah menyiapkan homestay.

Homestay ini pulalah yang akan menandai kahadiran Harganas di Kota Manado. “Maksudnya, melalui peringatan ini Pemkot akan mencanangkan pem­bangunan 20-50 homestay di kawasan Taman Laut Bunaken. Artinya, ada satu kamar layak huni bagi turis di setiap rumah warga. Ini agar masyarakat juga ikut menikmati kue pembangunan. Bila ini sukses, akan diperluas ke kawasan lainnya,” ujar Vicky.

Kota Manado miskin SDA. Yang dimiliki hanyalah destinasi wisata. Menyadari keterbatasan itu, saat ini Pemkot Manado mulai mengembangkan pendidikan keterampilan kepariwisataan. “Kami beri ruang kepada lebih kurang 30 persen anak muda Manado untuk meningkatkan keterampilannya melalui pusat-pusat pelatihan yang akan kami dirikan tahun ini juga. Mereka harus siap memasuki pasar kerja,” tutur Vicky.

Sekaitan dengan ini, Vicky yang harus “ngopeni” 5.210.000 penduduk Kota Manado juga menyampaikan tentang rencana Pemkot menelurkan satu regulasi. Peraturan daerah ini diantaranya akan mengatur penerimaan tenaga kerja oleh perusahaan. Penerimaan tenaga kerja harus melalui bursa tenaga kerja yang dikelola Pemkot Manado.

Vicky mengatakan, sebelum pusat-pusat pelatihan dibangun tahun ini, sejak dua tahun lalu Pemkot Manado sudah mengembangkan kerjasama dengan TP PKK Kota Manado. “Kami sudah aktif meningkatkan keterampilan kaum ibu dan sebagian bapak, antara lain keterampilan menjahit, potong rambut, membuat kue khas Kota Manado untuk mendukung pariwisata. Untuk anak-anak keluarga tak mampu kita siapkan tempat berlatih kursus bahasa Inggris dan Mandarin melalui Rumah Pintar,” jelas Vicky.

Pemkot Manado juga tengah me­ngembangkan program pembiayaan pendidikan untuk siswa jebolan SMA/SMK yang akan masuk perguruan tinggi. Program ini ditujukan untuk siswa dari keluarga tidak mampu di lokasi pembuangan akhir sampah (supir truk sampah, pemulung), buruh pasar dan pelabuhan, ojek dan supir angkot.

“Kita dukung penuh biaya untuk ke jenjang S1. Kami prioritaskan mereka. Kami ingin agar mata rantai kemiskinan bisa diretas melalui pendidikan. Kriterianya, kami lihat motivasi, semangat anaknya, bukan prestasi. Karena prestasi di SMA tidak selalu linier ketika mereka di perguruan tinggi,” jelas Vicky yang sudah menjabat Walikota Manado sejak tujuh tahun lalu. “Ini semua kami lakukan juga untuk menjemput era bonus demografi,” tambahnya.

 

IPM & KB

Menurut Plt Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Manado, dr. Nora Lumentut, beberapa capaian menunjukkan pembangunan di Kota Manado menuju maju. Salah satunya ditunjukkan melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang merupakan tertinggi di Sulawesi Utara.

Kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UPPKS) binaan BKKBN juga melaju. Bahkan mendapat penghargaan di tingkat Provinsi Sulut. Capaian di program KB pun cukup me­muas­kan. Jumlah peserta KB aktif di atas indikator Sulut yang 70 persen, total fertility rate (TFR) 2,3, di atas rata-rata nasional 2,4.

Namun Age Specific Fertility Rate (ASFR) cenderung meningkat tipis namun tetap di posisi 20an persen. “Kita masih harus bekerja keras karena angka pernikahan dini ada kecenderungan berubah ke arah peningkatan, sudah warning, walau perubahan angka ASFR dari tahun 2012 ke 2017 hanya komanya yang bergeser,” ujar Nora.

Mengantisipasinya, menurut Nora, dilakukan dengan lebih menggiatkan kegiatan kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR). “Melalui Pusat Informasi Konseling (PIK) Remaja kita jadikan kelompok peer sebagai penyuluh teman sebaya. Kami juga mengundang rohaniawan melalui Forum Komunitas Umat Beragama Kota Manado untuk memberikan materi tentang pembangunan keluarga saat kami ada program pelatihan,” jelas Nora.

 

(sara)

Bagikan:

Kegiatan

Logo Harganas Single
Info Medsos dan Web

Konten Terkait

FOLLOW, LIKE, SHARE