KABAR / Artikel

GENERASI EMAS 2045: "HARTA KARUN" ITU BERNAMA BONUS DEMOGRAFI

02 Juni 2017 23:48 WIB

 

Usia emas bintang sepakbola dunia seperti Lionel Messi ataupun Cristiano Ronaldo berada di kisaran 27-29 tahun. Pun juga bintang bulutangkis dunia seperti Hendra Setiawan ataupun Lin Dan juga berada di kisaran 28-29 tahun. Usia produktif itulah yang membuat angkatan mereka disebut dengan Generasi Emas. Lalu apa hubungannya dengan Indonesia? apakah Indonesia akan menciptakan Lionel Messi, Cristiano Ronaldo atau Lin Dan yang berjaya di masa emas mereka?

Sebentar... sebelum menjawab pertanyaan itu, mari kita lambungkan pikiran kita jauh ke depan. Tepatnya kita berada di tahun 2045. Ya... di tahun itu adalah momentum. Indonesia 2045 adalah momentum bersejarah berupa usia 100 abad alias setahun Indonesia. Ah… masih lama kok dipikirin sekarang ? Eits...nanti dulu. Indonesia 2045 memang masih 28 tahun lagi. Tapi sejatinya bibit-bibitnya itu sudah ada dari sekarang. Pasalnya, anak-anak kecil maupun yang baru lahir tahun ini sudah berada di sekeliling kita. Sejatinya, merekalah yang akan memimpin bangsa ini di tahun 2045 itu. Di tangan mereka yang masih bayi dan anak-anak sekarang inilah, masa depan dan nasib bangsa ini dipertaruhkan.

Pada tahun 2045 nanti, Indonesia genap berusia 100 tahun yang berarti 100 tahun emas. Inilah yang menjadi salah satu alasan munculnya ide, wacana, dan gagasan Generasi Emas 2045. Bukan tanpa sebab maupun alasan Generasi Emas 2045 itu digaungkan. Pasalnya, ada satu "harta karun" yang sejatinya bisa menjadi modal untuk kelangsungan bangsa dan negara ini kedepannya.

" Harta karun " itu bernama bonus demografi. Pada tahun 2045, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi yaitu jumlah penduduk Indonesia 70%-nya dalam usia produktif (15-64 tahun), sedangkan sisanya 30% merupakan penduduk yang tidak produktif (usia dibawah 14 tahun dan diatas 65 tahun) pada periode tahun 2020-2045. Jika bonus demografi ini tidak dimanfaatkan dengan baik akan membawa dampak buruk terutama masalah sosial seperti kemiskinan, kesehatan yang rendah, pengangguran, dan tingkat kriminalitas yang tinggi. Melihat dari fakta yang akan dihadapi Indonesia tersebut bonus demografi memang tidak bisa dihindari. Jadi untuk menghadapi fenomena ini tergantung bagaimana sikap semua pihak mulai dari masyarakat hingga pemerintah menghadapi bonus demografi ini.

Pemerintah sendiri melalui dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang disusun oleh Menko Perekonomian dicanangkan bahwa Indonesia pada tahun 2025 akan menjadi negara maju, mandiri, makmur, dan adil dengan pendapatan per kapita sekitar 15000 dollar AS serta diharapkan menjadi kekuatan ekonomi 12 besar dunia. Kemudian pada tahun 2045 mendatang Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu dari 7 kekuatan ekonomi terbesar di dunia dengan pendapatan per kapita sebesar USD47000.

Masterplan ini memang disiapkan untuk menghadapi bonus demografi yang mana 70% penduduk Indonesia adalah penduduk usia produktif yaitu 15-45 tahun atau bisa dikatakan didominasi oleh para pemuda. Masalahnya seperti apakah kualitas para pemuda pada saat itu, dan sekali lagi para pemuda dipertanyakan kembali sudah siapkah mereka mengemban tanggung jawab mereka sebagai seorang pemuda?

Generasi Emas 2045 adalah visi mulia yang harus diemban oleh seluruh elemen masyarakat. Maka disinilah khususnya institusi pendidikan memegang peranan untuk menyiapkan masa transisi generasi muda di kemudian hari. Namun yang lebih penting adalah peran keluarga dalam menyiapkan generasi emas ini. Dengan berbasis kepada keluarga, diharapkan muncul generasi masa depan Indonesia yang memiliki kecerdasan yang komprehensif, yakni produktif, inovatif, damai dalam interaksi sosialnya, sehat, menyehatkan dalam interaksi alamnya, dan berperadaban unggul.

Oleh karena itu, setiap keluarga Indonesia hendaknya mulai memperhatikan hal-hal yang sangat berpengaruh terhadap kecerdasan keluarga salah satunya yaitu pentingnya menjaga kesehatan keluarga. Hal ini dikarenakan didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat dan dapat meningkatkan semangat untuk terus belajar, berkarya dan berprestasi. Tujuan ini bukanlah hal yang mustahil untuk kita raih, jika seluruh elemen masyarakat bersinergi dengan menyamakan visi dan misi dengan kerja keras dan komitmen yang tinggi.

Jika sudah demikian, maka pertanyaan diatas tadi boleh kita jawab dengan optimis bahwa Indonesia bisa menciptakan pemuda-pemuda berkualitas unggul yang mampu menjawab tantangan zaman entah berbentuk Lionel Messi, Cristiano Ronaldo ataupun Lin Dan.

Untuk itu... Yakinlah kita bisa melakukannya!

 

Sumber foto: www.123rf.com

Bagikan:

Kegiatan

Logo Harganas Single
Info Medsos dan Web

Konten Terkait

FOLLOW, LIKE, SHARE