BKKBN — Merayakan usia ke 100 tahun pada 2045, Indonesia diharapkan telah menjadi negara maju dan modern atau dikenal dengan istilah Indonesia Emas.

Mewujudkan Indonesia Emas tentu saja diperlukan usaha yang tidak sedikit, salah satunya dengan menciptakan Sumber Daya Manusia yang berkualitas. Namun, dalam pelaksanaannya Indonesia dihadapkan dengan satu masalah genting yaitu stunting.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah lima tahun (Balita) akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu janin hingga usia 23 bulan.

Anak tergolong stunting apabila panjang atau tinggi badannya berada di bawah minus dua standar deviasi panjang atau tinggi anak seumurnya.

Pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk menurunkan angka stunting di Indonesia. Salah satunya dengan mengeluarkan Perpres No. 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. Sekaligus memberikan amanah kepada Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sebagai Ketua Pelaksana Percepatan Penurunan Stunting tingkat Nasional.

Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2022, prevalensi stunting di Indonesia turun dari yang sebelumnya berada pada 24,4 persen di tahun 2021 menjadi 21,6 persen di tahun 2022.

Ditargetkan prevalensi stunting di tahun 2024 turun menjadi 14 persen sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yaitu di bawah 20 persen.

Salah satu penyebab terjadinya stunting adalah rendahnya tingkat asupan gizi pada ibu hamil dan anak. Untuk itu, dihimbau kepada masyarakat untuk lebih mengatur pola makan dengan gizi seimbang bagi ibu hamil dan anak.

* Sumber Protein Hewani

Makanan sumber protein hewani sangat penting untuk asupan gizi selama masa periode perkembangan anak (1000 HPK). Tentu ibu hamil perlu memperhatikan hal ini.

Sumber protein hewani dapat meningkatkan pertumbuhan anak dan meningkatkan gizi balita. Namun tidak perlu khawatir karena untuk mendapatkan sumber protein tidak sulit dan relatif murah.

Salah satunya dengan mengkonsumsi telur yang merupakan sumber makanan yang memiliki banyak kandungan gizi.

Dikutip dari Kompas.com , telur memiliki 9 asam amino esensial lengkap yang tidak bisa diproduksi sendiri oleh tubuh manusia, utamanya dalam usia emas tumbuh kembang anak balita.

Asam Amino esensial sangat berperan penting dalam sel-sel tubuh untuk membentuk protein. Jika asam amino esensial kurang, pembentukan protein rendah sehingga menyebabkan terhambatnya pertumbuhan sel tulang, otot, darah, metabolisme zat besi dan meningkatkan risiko terjadinya stunting.

Telur juga kaya vitamin B kompleks, termasuk vitamin B12, folat, dan riboflavin yang semuanya penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak.

Tidak hanya vitamin B, telur juga merupakan sumber alami vitamin D yang penting untuk kesehatan tulang dan sistem kekebalan tubuh. Termasuk mencegah pertumbuhan tulang yang tidak optimal.

Terakhir, telur mengandung lemak sehat seperti asam lemak omega 3 yang penting untuk perkembangan otak dan sistem saraf.

Berikut fakta nutrisi telur rebus dalam satu butir (50 gram), yang dikutip dari Healthline:
~ Kalori: 77
~ Karbohidrat: 0,6 gram
~ Total lemak: 5,3 gram
~ Lemak jenuh: 1,6 gram
~ Lemak tak jenuh tunggal: 2,0 gram
~ Kolesterol: 212 mg
~ Protein: 6,3 gram
~ Vitamin A: 6 persen dari angka kecukupan gizi (AKG)
~ Vitamin B2 (riboflavin): 15 persen dari AKG
~ Vitamin B12 (cobalamin): 9 persen dari AKG
~ Vitamin B5 (asam pantotenat): 7 persen dari AKG
~ Fosfor: 86 mg atau 9 persen dari AKG
~ Selenium: 15,4 mcg atau 22 persen dari AKG

Selain tinggi dengan manfaat kandungan yang dimilikinya, telur juga sangat mudah didapat karena harganya yang relatif murah dan juga mudah diolah menjadi berbagai macam menu. n

Penulis : Nur Octavia Dian Rahayuningsih (BKKBN Bali)
Editor: Santjojo Rahardjo

Hari, Tanggal Rilis: Minggu, 5 Februari 2024

Media Center BKKBN
mediacenter@bkkbn.go.id
0812-3888-8840
Jl. Permata nomor 1
Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur

Tentang BKKBN

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) adalah lembaga yang mendapat tugas untuk mengendalikan jumlah penduduk melalui penyelenggaraan program kependudukan dan Keluarga Berencana, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia melalui pembangunan keluarga berdasarkan Undang-Undang Nomor 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.

BKKBN ditunjuk sebagai Ketua Koordinator Percepatan Penurunan Stunting berdasarkan Peraturan Presiden nomor 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.