JAKARTA, BKKBN — Apabila orang tua tidak memberikan asupan gizi yang baik, anak berpotensi mengalami stunting. Demikian halnya bila ibu yang masa remaja dan masa kehamilan kurang mendapat asupan nutrisi dan laktasi, juga akan mempengaruhi pertumbuhan dan otak anak.

Hal itu dikemukakan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Dr. (H.C.) Hasto Wardoyo, Sp.OG (K), yang diwakili Dr. Ir. Dwi Listyawardani, M.Sc. Dip. Com, Penyuluh KB Ahli Utama BKKBN, dalam Webinar Pencegahan Stunting melalui Manajemen Gizi dan Pola Asuh Anak yang dilaksanakan secara daring, Rabu (31/01/2024).

Selain pola asuh, Dani, sapaan Dwi Listyawardani, mengatakan pola makan dan pola konsumsi juga menjadi salah satu faktor penyebab stunting.

Dani mengatakan, rendahnya akses terhadap makanan dengan nilai gizi tinggi serta menu makanan yang tidak seimbang, biasanya terjadi karena orangtua kurang mengerti tentang konsep asupan gizi sebelum, saat dan setelah melahirkan.

Karena itu, seorang ibu harus paham tentang gizi. “Ibu cerdas sadar nutrisi,” kata Dani. “Seorang ibu juga harus tahu kalau stunting adalah gagal tumbuh secara optimal akibat kurangnya nutrisi pada 1000 hari pertama kehidupan, di mana kekurangan nutrisi paling sering terjadi justru pada saat kehamilan,” tambahnya.

Terkait pola konsumsi yang bisa memunculkan stunting, Dani merinci meliputi perilaku konsumsi kurang gizi makro, kurang protein hewani, kurang sayur dan buah, kurang gizi mikro, rendahnya praktek IMD (Inisiasi Menyusui Dini), tidak memberikan. ASI Eksklusif 6 bulan dan Makanan Pendamping ASI (MPASI).

Lebih jauh, Dani mengatakan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak sangat penting dilakukan. Pemantauan pertumbuhan anak bisa dilakukan secara berkala melalui pengukuran antropometri, yang kemudian dibandingkan dengan standar pengukuran kecukupan pertumbuhan, dan mengidentifikasi gangguan pertumbuhan sejak dini (WHO).

Sementara pemantauan perkembangan dilakukan dalam bentuk pengamatan bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih komplek seperti gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian.

Dani mengatakan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak dilakukan di posyandu.

* Penanganan stunting

Adapun penanganan stunting, menurut Dani, bisa dilakukan melalui intervensi gizi spesifik dengan pemberian tablet tambah darah, ASI, pemberian MPASI dan imunisasi dasar. Penanganan berikutnya melalui intervensi sensitif, berupa penanggulangan kemiskinan, pendidikan, sosial.

Dani mengatakan kontribusi intervensi sensitif terhadap percepatan penurunan stunting mencapai 70%. Sedangkan sektor kesehatan (intervensi spesifik) berkontribusi 30% dalam penanganan stunting.

“Stunting berisiko terutama pada balita. Kalau sudah lewat balita agak aman. Intinya ibu harus telaten,” tutup Dani.

Hadir juga sebagai narasumber Bobby A.R, SE, Ak, MBA, CFE, anggota DPR RI; dan Izzati Nur Hidayah, Peer Educator and Youth Facilitator.*

Penulis : Fatimah
Editor: Santjojo Rahardjo

Tanggal Rilis: 31 januari 2024

Media Center BKKBN
mediacenter@bkkbn.go.id
0812-3888-8840
Jl. Permata nomor 1
Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur

Tentang BKKBN

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) adalah lembaga yang mendapat tugas untuk mengendalikan jumlah penduduk melalui penyelenggaraan program kependudukan dan Keluarga Berencana, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia melalui pembangunan keluarga berdasarkan Undang-Undang Nomor 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.

BKKBN ditunjuk sebagai Ketua Koordinator Percepatan Percepatan Penurunan Stunting berdasarkan Peraturan Presiden nomor 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.