SUMBA TIMUR, BKKBN —Sedikitnya 350 warga masyarakat menyemut di Desa Tanaraing, Kecamatan Rindi, Kabupaten Sumba Timur, NTT, Selasa (30/01/2024).

Mereka hadir untuk mengikuti kegiatan Promosi dan Komunikasi, Informasi, Edukasi (KIE) Program Percepatan Penurunan Stunting.

Melalui virtual, hadir anggota Komisi IX DPR RI sebagai mitra kerja BKKBN. Kedua institusi ini melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat dalam program Percepatan Penurunan Stunting.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak usia di bawah lima tahun (balita) akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai, terutama dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dari janin hingga anak berusia dua tahun.

Anak tergolong stunting apabila panjang atau tinggi badannya berada di bawah minus 2 standar deviasi panjang atau tinggi anak seumurnya (Kementerian Kesehatan, 2018).

Permasalahan stunting memiliki dampak yang sangat merugikan, baik dari sisi kesehatan mau pun produktivitas ekonomi dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Dalam jangka pendek, stunting terkait dengan perkembangan sel otak yang akhirnya akan menyebabkan tingkat kecerdasan menjadi tidak optimal. Hal ini berarti kemampuan kognitif anak dalam jangka panjang akan lebih rendah dan akhirnya menurunkan produktivitas dan menghambat pertumbuhan ekonomi.

Faktor lain yang dapat mempengaruhi stunting yaitu ekonomi keluarga, penyakit atau infeksi yang berkali-kali. Kondisi lingkungan, baik itu polusi udara, air bersih bisa juga mempengaruhi stunting.

Tidak jarang pula masalah non kesehatan menjadi akar dari masalah stunting, seperti masalah ekonomi, politik, sosial, budaya, kemiskinan, kurangnya pemberdayaan perempuan, serta masalah degradasi lingkungan.

Maka dari itu, masalah stunting adalah persoalan bangsa yang harus dituntaskan bersama dan membutuhkan kolaborasi semua kalangan. Stunting tidak saja menjadi urusan BKKBN atau pemerintah tetapi menjadi urusan bersama.

Ketua Tim Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KBKR) Perwakilan BKKBN NTT, Blandina Luangkaly, menyampaikan bahwa pertumbuhan otak yang tidak maksimal dapat mengakibatkan kemampuan berpikir dan prestasi belajar rendah. Kekurangan gizi kronis yang dialami menyebabkan perkembangan organ-organ penting terganggu.

Anak yang mengalami stunting berisiko mengalami berbagai penyakit tidak menular (PTM) seperti gangguan pencernaan, diabetes, penyakit jantung, kanker, dan stroke.

Akibat pertumbuhan berat badan dan komposisi badan yang tidak optimum, anak yang mengalami stunting memiliki daya tahan tubuh atau imunitas yang kurang. Kekebalan tubuh menjadi tidak maksimal sehingga mudah jatuh sakit.

“Stunting tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dicegah di periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan,” jelasnya.

Di Akhir materi, Luangkaly mengatakan bahwa program KB tidak diarahkan untuk membatasi jumlah anak, tetapi diharapkan setiap keluarga memiliki perencanaan dalam mewujudkan keluarga berkualitas. Termasuk jumlah anak yang dimiliki.*

Penulis : Alfonzha
Editor : Santjojo Rahardjo

Tanggal Rilis: Selasa, 30 Januari 2024

Media Center BKKBN
mediacenter@bkkbn.go.id
0812-3888-8840
Jl. Permata nomor 1
Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur

Tentang BKKBN

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) adalah lembaga yang mendapat tugas untuk mengendalikan jumlah penduduk melalui penyelenggaraan program kependudukan dan Keluarga Berencana, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia melalui pembangunan keluarga berdasarkan Undang-Undang Nomor 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.

BKKBN ditunjuk sebagai Ketua Koordinator Percepatan Percepatan Penurunan Stunting berdasarkan Peraturan Presiden nomor 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.