TANGERANG, BKKBN — Tahun 2024 menjadi tahun penentu, tahun dimana prevalensi stunting ditargetkan menjadi 14 persen. Untuk mengejar target tersebut, BKKBN Banten mengencangkan sinergi dengan mitra kerja.

Adalah Kabupaten Tangerang yang kali ini dipilih menjadi lokus kegiatan Sosialisasi dan KIE pencegahan stunting. Kali ini BKKBN bermitra dengan anggota Komisi IX DPR RI. Lokasi yang dituju Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang, berlangsung Senin (29/01/2024).

“Meskipun stuntingnya sudah turun sebanyak 2,3 persen, dari 23,4 persen menjadi 21,1 persen, tapi jumlah penduduknya terpadat di Banten. Jadi, risiko terjadinya stunting juga tinggi.” Demikian Komisi IX DPR RI memandang.

Stunting merupakan persoalan serius karena mengancam masa depan bangsa. Penyelesaiannya diperlukan kerja keras dan tepat sasaran. Bukan hanya sekedar membagikan makanan selesai, tapi mindset masyarakat juga harus diperbaiki.

Setidaknya begitu salah satu benang merah yang mengemuka dari kegiatan sosialisasi dan KIE pencegahan stunting tersebut yang melibatkan mitra kerja BKKBN, Komisi IX DPR RI.

Kegiatan ini merupakan sinergi antara eksekutif dan legislatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Terlebih lagi stunting adalah program prioritas nasional yang harus didukung.

Rusman Efendi, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Banten turut hadir memberikan KIE langsung kepada masyarakat. “Stunting berbahaya karena bukan cuma badannya saja yang tidak tumbuh, tapi juga perkembangan otaknya. Jadi masa depan anak stunting bisa suram nantinya,” ucap Rusman Efendi.

Rusman juga berpesan agar orang tua memberikan asupan makanan bergizi kepada anak, khususnya dengan usia di bawah dua tahun, rajin datang ke posyandu dan Bina Keluarga Balita (BKB) supaya kalau ada risiko stunting pada anak dapat cepat terdeteksi.

* Balita stunting

Dokter Hendra, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten (DPPKB) Tangerang menyebutkan, terdapat 5.391 balita stunting di Kabupaten Tangerang. Sementara di Kecamatan Curug ada 285 balita stunting.

Disadari dr. Hendra bahwa menyelesaikan stunting tidak bisa hanya dilakukan intervensi kepada anak stunting saja tapi lebih kepada keluarga risiko stunting (KRS). Jumlahnya mencapai 77.608 keluarga di Kabupaten Tangerang. Sedangkan di Kecamatan Curug, jumlah KRS mencapai 3.399 keluarga.

“Semestinya merekalah yang harus kita lakukan intervensi, supaya nantinya tidak terjadi stunting baru,” ujar dr. Hendra.

Menyelesaikan stunting, menurut dr. Hendra, tidak bisa dilakukan BKKBN Banten atau Dinas KB saja, tapi juga perlu keterlibatan pihak lain. Masalah stunting bukan sekedar masalah gizi saja, tapi juga terkait air minum, jamban yang layak,“ jelasnya.

Menurutnya, banyak anak stunting di Kabupaten Tangerang bukan hanya disebabkan oleh kurang gizi, tapi juga pola asuh yang salah. Apalagi rata-rata penduduk perempuan di Kabupaten Tangerang adalah pekerja.

Pola asuh dimaksud berkaitan dengan perilaku dan pemberian makanan kepada anak. Kesalahan pola asuh dapat mempengaruhi asupan gizi anak. “Makanya, yang diedukasi bukan hanya orang tuanya saja, tapi juga nenek dan kakeknya bahkan pengasuhnya,” katanya.

Sepakat dengan apa yang disampaikan dr. Hendra,
Direktur Kesehatan Reproduksi, BKKBN, Marianus Mau Kuru menjelaskan bahwa mencegah stunting baiknya dilakukan dari hulu, dari keluarga risiko stunting.

“Kami hadir di sini untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya keluarga risiko stunting supaya terhindar dari stunting,” katanya.

Dikatakan, stunting bukan penyakit, hanya dapat dicegah namun tidak bisa diobati. Anak yang terindikasi stunting masih bisa ditangani, dengan catatan anak tersebut berusia di bawah lima tahun. Lebih efektif jika di bawah dua tahun.

“Anak-anak banyak dikasih makan protein tinggi, misalnya ikan dan telur, jangan lupa diberikan ASI eksklusif juga,” katanya, seraya menambahkan, mencegah stunting dapat dilakukan dengan tiga cara, yakni pola makan yang sehat, pola asuh yang baik dan pola hidup sehat.

Ia mengingatkan, jangan lupa mengatur jarak kelahiran dengan pendekatan 4T, yaitu terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak dan terlalu sering melahirkan.

Usia ideal bagi Perempuan melahirkan adalah 21 tahun. Melahirkan sebaiknya jangan lebih dari usia 35 tahun. Adapun laki-laki, usia ideal menikah adalah 25 tahun

“Jangan ragu ikut KB ibu-ibu. Sekarang sudah banyak akses untuk mendapatkan informasi mengenai alat kontrasepsi, bisa berkonsultasi dengan bidan desa, Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) atau PLKB di lapangan, atau kader KB,” katanya

Dengan ikut KB, sambungnya, “berarti kita juga menyayangi keluarga kita, khususnya ibu-ibu yang melahirkan, menyusui dan banyak mengurus anak nantinya.”

Manfaat keluarga berKB bukan hanya membuat ibu sehat, tapi juga anak tumbuh sehat, ayah juga bahagia.*

Penulis : Chathiyana FL
Editor: Santjojo Rahardjo

Tanggal Rilis: Selasa, 30 Januari 2024

Media Center BKKBN
mediacenter@bkkbn.go.id
0812-3888-8840
Jl. Permata nomor 1
Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur

Tentang BKKBN

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) adalah lembaga yang mendapat tugas untuk mengendalikan jumlah penduduk melalui penyelenggaraan program kependudukan dan Keluarga Berencana, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia melalui pembangunan keluarga berdasarkan Undang-Undang Nomor 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.

BKKBN ditunjuk sebagai Ketua Koordinator Percepatan Percepatan Penurunan Stunting berdasarkan Peraturan Presiden nomor 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.