KULON PROGO, BKKBN – Manusia diciptakan awalnya dalam kondisi lemah untuk dikuatkan (diasuh) oleh orang tua dan komunitas. Setelah menjadi kuat dan produktif pada akhirnya akan melemah dan menjadi tua.

Hal tersebut merupakan siklus alam. Oleh karena itu, lanjut pria yang kerap disapa dokter Hasto tersebut mengingatkan, wanita sebaiknya tidak hamil sebelum usia 21 tahun dan setelah usia 35 tahun, karena kurun usia tersebut merupakan kurun wanita berada pada puncak kemampuan reproduksi yang sehat.

“Menua itu pasti, tetapi menjadi dewasa dan sehat itu perlu usaha.” Kalimat singkat tetapi kaya makna disampaikan dokter Hasto, sapaan akrab Kepala BKKBN RI, Dr. (H.C.) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K), pada kegiatan Sosialisasi dan KIE Program Bangga Kencana dan Percepatan Penurunan Stunting Bersama Mitra Kerja, Sabtu (27/01/2024).

Kegiatan ini berlangsung di Desa Kalirejo, Kecamatan Kokap, Kulon Progo dan dihadiri lebih dari 200 tokoh masyarakat dan warga setempat.

Di atas 35 tahun risiko kehamilan semakin tinggi. Hal ini disebabkan proses penurunan fungsi tubuh dimulai sejak usia 32 tahun, yang meliputi pengapuran dan penyempitan pembuluh darah, pengeroposan tulang, dan kerusakan sel pada organ tertentu, termasuk organ reproduksi pada perempuan.

“Maka jangan pernah hamil di atas usia 49 tahun, apalagi untuk kehamilan pertama,” imbuh dokter Hasto.

Data menunjukkan bahwa penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki jumlah lansia yang paling tinggi (16 persen). Sekaligus angka harapan hidup tertinggi di Indonesia, dengan rata-rata usia harapan hidup mencapai 76 hingga 77 tahun. Dalam konteks ini, menurut dokter Hasto, penting untuk mengoptimalkan kualitas lansia agar mereka dapat menjadi kelompok yang produktif, mandiri, dan sehat.

 Hal ini diharapkan dapat berkontribusi pada penurunan angka kemiskinan dan ketergantungan di masyarakat. “Jika kita tidak memperhatikan kesehatan orang tua, mungkin kita akan kerepotan karena terlalu banyak yang “sekeng” dan ekonomi lemah,” ujar dokter Hasto.

Mantan Bupati Kulon Progo ini juga sangat mengapresiasi inisiatif warga Desa Kalirejo yang membentuk Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Baitunnajah. LKS ini, yang dibentuk oleh, dari, dan untuk masyarakat, memainkan peran aktif dalam membantu memecahkan masalah sosial, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat di desa tersebut.

Kepada para ibu dan calon ibu, dokter Hasto mengingatkan pentingnya pemberian ASI eksklusif hingga 6 bulan sebagai bentuk nutrisi utama yang sangat bagi tumbuh kembang bayi. Selanjutnya pemberian ASI dilanjutkan hingga usia 24 bulan dengan penambahan makanan pendamping ASI (MPASI) yang sesuai.

“Pokoknya Ngek Jel”, kelakar dokter Hasto dalam pesannya bagi para ibu yang sedang menyusui. Makna pesan ini adalah untuk memberikan ASI sesering mungkin, sesuai dengan kebutuhan bayi yang terekspresikan dalam tangisan minta ASI.

Tujuannya agar bayi tidak hanya tumbuh sehat, tetapi juga cerdas, dan terhindar dari risiko stunting yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya.

* Rentan Gangguan Jantung

Turut hadir bersama dokter Hasto, tenaga ahli BKKBN, dr. Riyo Kristian Utomo, yang menyoroti pentingnya upaya bersama untuk mencegah stunting. Saat ini, terungkap bahwa kondisi dampak stunting menyumbang 16 persen dari total kematian.

Penelitian lain juga memperlihatkan bahwa individu yang mengalami stunting sejak lahir lebih rentan terhadap gangguan organ jantung.

Stunting, sebagai kondisi kekurangan gizi kronis, dapat memicu penyakit infeksi berulang dan risiko penyakit lainnya. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pencegahan stunting sejak awal, mulai dari tahap perencanaan pernikahan, kehamilan, setelah melahirkan hingga anak berusia 2 tahun.

“Perbaiki pabriknya agar hasil produksinya juga bagus,” ucap Riyo.

Pemenuhan gizi yang cukup dan pemeriksaan kesehatan bagi calon ibu dan ibu hamil serta menyusui menjadi kunci penting dalam langkah pencegahan. Upaya ini dimulai dari hulu dengan tujuan membentuk generasi yang terbebas dari risiko stunting.

Senada dengan dr Riyo, Ketua DPRD Kabupaten Kulon Progo Akhid Nuryati, S.E menghimbau masyarakat Kalirejo untuk mengoptimalkan 1000 Hari pertama kehidupan. Caranya, dengan memberikan asupan makanan sehat yang bisa didapatkan dari produksi lokal warga melalui kelompok masyarakat yang sudah terbentuk.

Sementara itu Kepala DPMDPPKB Kabupaten Kulon Progo, Ariadi, yang juga hadir menyampaikan kondisi dan upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Kulon Progo.

Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, prevalensi stunting di Kabupaten Kulon Progo berada di angka 15,8 persen dan sedikit naik pada 2023. Namun pengukuran langsung oleh kader di Posyandu yang dihimpun Dinas Kesehatan setempat mencatat angka stunting tahun 2023 turun menjadi 9,4 persen.

Terlihat hadir dalam kegiatan sosialisasi tersebut jajaran Forkopimda Kabupaten Kulon Progo dan Lurah Kalirejo. n

Penulis : Dewi S. Mayasanti
Editor : FX Danarto SY/Santjojo Rahardjo

Tanggal Rilis: Minggu, 28 Januari 20224

Media Center BKKBN
mediacenter@bkkbn.go.id
0812-3888-8840
Jl. Permata nomor 1
Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur

Tentang BKKBN

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) adalah lembaga yang mendapat tugas untuk mengendalikan jumlah penduduk melalui penyelenggaraan program kependudukan dan Keluarga Berencana, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia melalui pembangunanan keluarga berdasarkan Undang-Undang Nomor 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.

BKKBN ditunjuk sebagai Ketua Koordinator Percepatan Percepatan Penurunan Stunting berdasarkan Peraturan Presiden nomor 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.