MAMUJU, BKKBN — Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2022 mengungkap bahwa Sulawesi Barat menempati peringkat kedua tertinggi dalam angka prevalensi stunting di Indonesia setelah Nusa Tenggara Timur, dengan persentase  35%. 

Polewali Mandar, salah satu daerah di Sulawesi Barat, turut berkontribusi dengan angka prevalensi stunting yang tinggi, mencapai 39,3% dengan peningkatan 3,3% dari tahun sebelumnya.

Dalam upaya percepatan penurunan angka stunting, anggota Komisi IX DPR RI  Dra. Hj. Andi Ruskati Ali Baal, bersama  jajaran BKKBN Sulbar menggelar kegiatan Promosi dan KIE Percepatan Penurunan Stunting di Tingkat Kabupaten di SMA Negeri 3 Polewali, Kabupaten Polewali Mandar, Jumat (24/11).

Kehadiran Hj. Andi Ruskati Ali Baal di hadapan 350 orang pelajar bertujuan untuk memberikan motivasi kepada para siswa agar melanjutkan pendidikan mereka serta menunda pernikahan usia muda. 

Dalam kunjungannya, Andi Ruskati menekankan pentingnya kesadaran akan prevalensi stunting yang tinggi di Sulawesi Barat, sebagai tanggung jawab bersama untuk memperbaiki kondisi tersebut.

“Angka stunting yang tinggi di Sulawesi Barat, mencapai 35%, menjadi perhatian kita bersama. Hal ini berkaitan erat dengan pentingnya menunda pernikahan dini, karena menjadi salah satu penyebab tingginya angka stunting,” ujar Andi Ruskati.

Dari data yang dihimpun  Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi Sulawesi Barat, Polewali Mandar mencatat sebanyak 399 kasus perkawinan anak hingga Mei 2023. Pandangan bahwa pernikahan anak adalah solusi untuk membantu perekonomian keluarga menjadi faktor penyebab tingginya angka pernikahan di usia dini.

“Sangat penting bagi anak-anak untuk memiliki cita-cita dan semangat yang kuat, sebagai motivasi untuk memperbaiki diri di tengah persaingan yang ketat. Kita harus menghentikan pernikahan anak-anak agar Sulawesi Barat dapat tumbuh dan berkembang ke depan,” tambah Ruskati.

Dalam konteks ini, Ruskati juga menggarisbawahi pentingnya masa depan Sulawesi Barat dalam 10-20 tahun mendatang, yang dapat dimanfaatkan melalui bonus demografi. Untuk itu, pesan yang disampaikan adalah pentingnya menunda pernikahan agar dapat membangun masa depan yang lebih baik bagi Sulawesi Barat.

“Jangan terburu-buru untuk menikah, karena hal ini akan merugikan diri sendiri dan keluarga. Mari bersama-sama membangun Sulawesi Barat yang lebih baik,” tutup Ruskati.

Ruskati dikenal sebagai pencetus rekor MURI di Sulawesi Barat atas partisipasinya dalam kampanye minum tablet tambah darah terbanyak, menunjukkan keterlibatannya yang kuat dalam upaya kesehatan masyarakat.

Dukungan kuat

Plt. Kepala Perwakilan BKKBN Sulawesi Barat, Rezky Murwanto, S.Kom, MPH yang turut hadir pada kegiatan tersebut memberikan dukungan kuat terhadap program pemerintah untuk mencegah pernikahan dini. Caranya, dengan mendorong generasi muda  melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

“Saya mengajak kalian semua untuk mendukung program pemerintah dengan tidak menikah dini dan fokus pada pendidikan yang lebih tinggi. Kesempatan untuk belajar di sekolah adalah sebuah anugerah, banyak orang tidak mendapat kesempatan seperti kalian. Mari, jangan sia-siakan kesempatan ini dengan menikah terlalu cepat, karena yang akan rugi adalah masa depan anak-anak kita,” ujar Rezky dengan tegas.

Dalam menghadapi tantangan negatif yang kerap mengintai remaja, Rezky Murwanto menekankan pentingnya pemahaman terhadap program Generasi Berencana (GenRe) yang diperkenalkan melalui 3 prinsip “zero”: katakan tidak pada narkotika, katakan tidak pada seks bebas, dan katakan tidak pada pernikahan dini.

“Remaja, mari bersama-sama terlibat dalam kegiatan yang positif. Salah satunya adalah menjadi bagian dari Generasi Berencana dengan bergabung di Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) yang ada di sekolah,” imbuh Rezky.

Selain itu, Rezky juga mengajak para remaja khususnya remaja putri untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan, terutama dalam mencegah anemia dengan rutin mengonsumsi tablet tambah darah.

“Anemia adalah kondisi serius di mana tubuh kekurangan sel darah merah yang sehat atau ketika sel darah merah tidak berfungsi optimal. Hal ini dapat mengakibatkan kurangnya pasokan oksigen ke organ tubuh, menyebabkan kulit pucat dan mudah lelah,” jelas Rezky.

“Dengan kesadaran akan pentingnya pencegahan anemia, diharapkan remaja dapat menerapkan langkah-langkah pencegahan, seperti mengonsumsi makanan kaya zat besi, buah-buahan, sayuran hijau, dan rutin mengonsumsi tablet tambah darah,” tambahnya.

Sambutan hangat datang dari Rusniati, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA Negeri 3 Polewali,  atas penyelenggaraan kegiatan Promosi dan KIE Percepatan Penurunan Stunting di lingkungan sekolah.

“Kami sangat mengapresiasi dan bersyukur dengan kegiatan yang diadakan di sekolah ini untuk mendukung penanggulangan stunting. Ini menjadi penting bagi anak-anak kami 

karena stunting dapat menjadi penghambat masa depan mereka sebagai generasi penerus,” ungkap Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan.

Dalam konteks lingkungan pendidikan, pemahaman tentang stunting serta cara pencegahannya menjadi hal yang sangat krusial. Komitmen dari pihak sekolah dalam mendukung kegiatan edukasi tentang stunting menjadi salah satu langkah strategis untuk mempersiapkan generasi muda yang lebih sehat dan berkualitas di masa depan.

“Anak-anak inilah yang akan membawa peran penting sebagai generasi penerus di masa yang akan datang. Dengan adanya informasi dan edukasi tentang stunting, mereka akan lebih mampu untuk mencegahnya dan menjadi calon ibu dan bapak yang mampu membawa generasi yang sehat ke depannya,” lanjutnya.

Komitmen BKKBN dan mitra kerja  dalam mendukung pendidikan, kesadaran kesehatan, serta penolakan terhadap praktek pernikahan dini, menjadi langkah penting dalam membangun masa depan yang lebih cerah bagi generasi muda khususnya di tanah Malaqbi, Sulawesi Barat. n

Penulis: Padly Hadis Said

Editor : Santjojo Rahardjo

Tgl. Rilis: Minggu, 26 November 2023

Media Center BKKBN

mediacenter@bkkbn.go.id

0812-3888-8840

Jl. Permata nomor 1

Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur

Tentang BKKBN

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) adalah lembaga yang mendapat tugas untuk mengendalikan jumlah penduduk melalui penyelenggaraan program kependudukan dan Keluarga Berencana, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia melalui pembangunan keluarga berdasarkan Undang-Undang Nomor 52 tahun 2009  tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.

BKKBN ditunjuk sebagai Ketua Koordinator Percepatan Percepatan Penurunan Stunting berdasarkan Peraturan Presiden nomor 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.