JAKARTA, BKKBN—Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) mendorong seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) yang jumlahnya mencapai 4 juta orang untuk menjadi Bapak Asuh Anak Stunting.

Dorongan itu disampaikan Ketua Umum Dewan Pengurus Korpri Nasional, Prof. Dr. Zudan Arif Fakrulloh, SH, MH dalam seminar daring bertajuk “ASN Ayo Ikut Cegah Stunting” yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting dan Live Youtube pada Selasa (7/11/2023).

“Bagaimana kita bisa bantu mempercepat penurunan stunting? Mari anggota Korpri kompak membantu, mau lebih peduli mengajak para ibu hamil, anak balita dibawa ke Posyandu. Para ASN bisa mengambil peran itu. Yang lebih revolusioner apabila 4 juta ASN mau menjadi Bapak atau Bunda Asuh Anak Stunting (BAAS) yaitu menjadi orangtua angkat bagi anak risiko stunting dengan memberikan bantuan makanan untuk meningkatkan status gizinya. Juga bisa memfokuskan bakti sosial kita untuk penurunan stunting,” kata Zudan yang menjadi keynote speaker dalam seminar itu.

Seminar ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan ASN Korpri serta masyarakat umum tentang dampak stunting pada pertumbuhan anak, serta peran penting yang dapat dimainkan oleh ASN Korpri dalam mencegah stunting di Indonesia.

Zudan juga mengajak semua peserta seminar untuk berkolaborasi dalam mewujudkan anak-anak yang sehat dan berkualitas, 

Sementara itu Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dalam seminar yang digelar Dewan Pengurus Nasional Korpri itu memaparkan kebijakan dan strategi penurunan stunting.

“Saat ini kita ada di masa yang disebut populasi menua, karena berdasarkan sensus penduduk tahun 2020 ada sekitar 10,76 persen masyarakat Indonesia adalah lansia, sekitar 70 persen terdapat penduduk produktif. Pertanyaan kita apakah bisa meraih bonus demografi?,” ungkap Kepala BKKBN Dr. (H.C.) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) sebagai narasumber yang dalam hal ini diwakili oleh Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak dr. Irma Ardiana, MAPS.

Dirinya membahas pentingnya pengendalian laju penduduk yang berkaitan erat dengan target penangan stunting dan bonus demografi, “melalui upaya penurunan angka perkawinan anak, penjarangan kehamilan sehingga tidak terlalu dekat jarak kelahirannya, penurunan angka kematian bayi dan balita, peningkatan jaminan kesehatan, karena kualitas lansia ke depannya ditentukan dari kualitas anak-anak kita saat ini,” papar dr. Irma.

Ia menyebutkan perlu upaya yang luar biasa untuk mencapai target angka stunting 14 persen di tahun 2024. “Dampak stunting bagi nasib bangsa itu luar biasa, erat sekali dengan kekurangan gizi menyumbang 45 persen dari kematian balita, penurunan 7-16 persen fungsi kognitif anak, obesitas dan penyakit kronis pada usia dewasa, berpeluang berpenghasilan lebih rendah, tentu berdampak pada kerugian ekonomi negara,” ungkapnya.

Lebih lanjut, dr. Irma memberikan benchmarking praktik baik penurunan stunting dari berbagai negara beserta program yang mereka jalankan, yaitu Peru turun 4,5 persen per tahun, Bolivia turun 2,5 persen per tahun, Korea 1,78 persen per tahun.

“Dari pembelajaran tersebut maka kita bisa mengkonstruksikan kebijakan dan strateginya melalui Perpres Nomor 72 tahun 2021 tentang Percepatan penurunan stunting,” katanya. 

Adapun tujuannya adalah menurunkan prevalensi stunting, meningkatkan kualitas penyiapan terhadap keluarga, menjamin pemenuhan asupan gizi, memperbaiki pola asuh, meningkatkan kualitas akses pelayanan kesehatan, serta meningkatkan akses air minum dan sanitasi.

Transformasi Kesehatan

Sementara itu Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI Dr. Maria Endang Sumiwi membagikan pandangan dari perspektif kesehatan masyarakat dan program-program yang sedang dilakukan oleh pemerintah dalam mencegah stunting.

“Kemenkes berkomitmen melakukan transformasi sistem kesehatan Indonesia, yang teridiri dari 6 pilar transformasi penopang. Diantaranya, layanan primer dari mengobati menjadi mencegah, layanan rujukan dengan meningkatkan akses dan mutu layanan sekunder dan tersier, sistem ketahanan kesehatan, sistem pembiayaan kesehatan, SDM kesehatan, serta teknologi kesehatan,” kata Endang.

Dirinya juga membahas peran kesehatan masyarakat dalam pencegahan stunting dan kebijakan yang telah diimplementasikan untuk mencapai tujuan tersebut.

Peserta seminar, yang berjumlah ribuan ASN dari berbagai daerah di Indonesia, sangat antusias dalam mendengarkan dan berpartisipasi dalam diskusi yang dilakukan selama acara. 

Mereka berkesempatan untuk bertanya langsung kepada narasumber tentang isu-isu terkait stunting dan bagaimana mereka dapat berkontribusi dalam mencegahnya di masyarakat mereka, menciptakan platform berharga untuk pertukaran ide dan pengalaman. Dengan mengikuti acara ini, peserta juga mendapatkan mendapatkan e-sertifikat 2 JP (Jam Pelajaran).

Stunting merupakan masalah serius yang mempengaruhi pertumbuhan fisik dan perkembangan anak-anak. Stunting dapat berdampak negatif pada kesehatan, pendidikan, dan masa depan anak-anak. Oleh karena itu, Dewan Pengurus KORPRI Nasional berharap bahwa hasil dari seminar ini akan memberikan dorongan positif bagi ASN dalam menjalankan tugas dan peran mereka dalam mendukung pertumbuhan anak-anak dan mencegah stunting di Indonesia. n

Penulis: Fitri Aminatul Azizah

Editor: Kristianto

Hari, Tanggal Rilis: Selasa, 7 November 2023

Media Center BKKBN

mediacenter@bkkbn.go.id

0812-3888-8840

Jl. Permata nomor 1 Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur

Tentang BKKBN

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) adalah lembaga yang mendapat tugas untuk mengendalikan jumlah penduduk melalui penyelenggaraan program kependudukan dan Keluarga Berencana, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia 

(SDM) Indonesia melalui pembangunan keluarga berdasarkan Undang-Undang Nomor 52 tahun 2009  tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.

 

BKKBN ditunjuk sebagai Ketua Koordinator Percepatan Penurunan Stunting berdasarkan Peraturan Presiden nomor 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.