SIARAN PERS BKKBN

Nomor:  1163/M.C/IX/2023

Dampingi Calon Pengantin dan Ibu Hamil, BKKBN Perkuat Tim Pendamping Keluarga Cegah Stunting

AMBON—Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terus memperkuat peran Tim Pendamping Keluarga untuk mencegah stunting melalui pendampingan bagi calon pengantin dan ibu hamil.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Utama BKKBN RI Drs. Tavip Rayanto, M.Si melakukan kunjungan kerja ke Desa Batu merah Kota Ambon, sekaligus memberikan penguatan kapasitas untuk membekali dan menguatkan peran Tim Pendamping Keluarga, yang berlangsung di ruang pertemuan kantor Negeri Batu Merah, pada Rabu (27/09/2023).

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Sekertaris Utama BKKBN RI, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku, Dra. Renta Rego, ketua TP PKK Kota Ambon, Lisa Wattimena, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Ambon, Ir. J.W.Patty.M.Si dan para Tim pendampingan Keluarga.

Tavip Rayanto dalam pemaparannya terkait penguatan kapasitas bagi pendampingan Keluarga dan mitra kerja mengatakan, atas nama BKKBN saya mengucapkan terimakasih karena berdasarkan data SSGI tahun 2022 Maluku mengalami penurunan stunting sebesar 2,6%.

Ia mengungkapkan Ada dua data yang stunting sering diperdebatkan diberbagai tempat karena data itu dikeluarkan oleh Kemenkes tetapi tetapi kepentingannya berbeda.

“Jadi yang satu data itu berasal dari hasil pengukuran posyandu yang mengukur perkembangan anak dari waktu ke waktu sedangkan data yang satunya berdasarkan survei yang dimana memiliki sampel walaupun tidak memiliki nama tapi itu yang dipakai nasional walaupun tidak by name by address,” katanya.

Lanjutnya Tavip mengatakan tim pendamping keluarga berperan memberikan edukasi kepada calon pengantin untuk memiliki sertifikat dari aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Hamil (Elsimil) sebelum menikah.

“BKKBN telah bekerja sama dengan Kementerian Agama mengeluarkan edaran agar tiga bulan sebelum menikah, para calon pengantin telah memiliki sertifikat Elsimil yang kemudian dilaporkan kepada Kantor Urusan Agama (KUA) setempat,” kata Tavip. 

Tavip meminta tim pendamping keluarga mendampingi setiap calon pengantin untuk mendaftarkan diri di Kementerian Agama terlebih dahulu supaya bisa mendapatkan sertifikat.

Pendaftaran diri tersebut, sebagai salah satu strategi pemerintah mempercepat penurunan angka prevalensi stunting dari hulu, melalui skrining, edukasi kesehatan reproduksi, perbaikan gizi serta pendampingan bagi calon pengantin melalui aplikasi Elsimil.

Aplikasi Elsimil untuk mengawal kesehatan semua calon pengantin, bukan menghambat calon pengantin untuk menikah.

Mengingat tingginya angka anemia pada remaja dan calon pengantin perempuan dinilai berkontribusi besar dalam meningkatkan angka prevalensi stunting. 

Ia menyatakan calon pengantin itu diperkirakan 80 persen akan langsung hamil dan 20 persen akan tertunda.

Tavip menambahkan bahwa Ibu hamil harus menjadi fokus penanganan stunting dengan melakukan pengawalan agar anak yang dikandung mendapatkan nutrisi yang cukup.

“Setelah lahir juga harus dikawal agar pola asuh anak ini dapat berjalan dengan baik hingga berusia lima tahun nanti. Kalau sudah berumur lima tahun terkena stunting maka akan sulit untuk mengembalikannya,” tambahnya.

Jika sudah ada data sasaran, katanya, pencegahan yang dilakukan dengan membina calon pengantin agar jangan sampai ada calon pengantin baru yang hamil.

“Dari 80 persen orang menikah langsung hamil 80 persen, jumlahnya harus dihentikan agar tidak menyebabkan angka stunting baru,” ujar Tavip.

Ketua TP PKK kota Ambon, Lisa Wattimena dalam sambutan mengatakan, Kota Ambon mempunyai 430 Orang Pendamping Keluarga Stunting yang tergabung dalam 142 Tim dan kegiatan inovasi yang telah kami lakukan antara lain Gerakan Peduli Stunting (Garpu genting), Remaja Paham Kesehatan Mental (Rempah Mental), Pola Asuh Benar dan Tepat (Pos Beta Daring), Belajar Menjadi Orang Tua Hebat (Berobat) dan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat).

Menurut Lisa, dalam Peraturan Presiden No.72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting salah satu prioritas kegiatan yang termuat dalam Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Stunting (RAN PASTI) adalah pelaksanaan pendampingan keluarga beresiko stunting, pendampingan semua calon pengantin/calon pasangan usia subur dan surveillance keluarga beresiko stunting.

Disinilah peran tim pendamping keluarga

sangat dibutuhkan.

“Dalam rangka Pembangunan kualitas sumber daya manusia, permasalahan stunting merupakan salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan otak anak. Stunting sangat berkaitan erat dengan perkembangan sel otak yang akhirnya akan menyebabkan tingkat kecerdasan menjadi tidak optimal,” jelas Lisa.

Ia juga melaporkan bahwa pada tahun 2021 jumlah anak stunting di Kota Ambon sebanyak 917 orang, tahun 2022 sebanyak 509 orang dan tahun 2023 sebanyak 366 orang.

Oleh karenanya Lisa mengatakan kegiatan penguatan kapasitas kepada Tim Pendamping Keluarga dan Mitra Kerja yang dilaksanakan saat ini dirasakan sangat penting dan strategis dalam upaya kita bersama untuk penanganan dan pencegahan stunting di Kota Ambon. n

Penulis: Marthen L dan Krisna

Editor: Kristianto

Tanggal Rilis: Kamis, 28 September 2023

Media Center BKKBN

mediacenter@bkkbn.go.id

0812-3888-8840

Jl. Permata nomor 1 

Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur

Tentang BKKBN

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) adalah lembaga yang mendapat tugas untuk mengendalikan jumlah penduduk melalui penyelenggaraan program kependudukan dan Keluarga Berencana, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia melalui pembangunan keluarga berdasarkan Undang-Undang Nomor 52 tahun 2009  tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.

BKKBN ditunjuk sebagai Ketua Koordinator Percepatan Penurunan Stunting berdasarkan Peraturan Presiden nomor 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.