SIARAN PERS BKKBN
Nomor: 471/M.C/XI/2022

Pulau Sebatik, Dapur Rumah di Malaysia dan Angka Stunting di Wilayah Indonesia

DI Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara, ada sebuah rumah yang terkenal. Rumah di Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik ini menjadi terkenal karena bangunan rumah yang hanya berukuran 4 x 6 meter ternyata tepat berdiri di batas dua wilayah, Indonesia dan Malaysia.

Ruang tamu rumah ini berada di wilayah Indonesia, sedangkan dapurnya ada di wilayah Malaysia. Sekitar lima meter dari rumah itu terdapat patok yang menandai batas wilayah Indonesia-Malaysia dan dikenal sebagai Patok 3 Aji Kuning.

Tak jauh dari rumah itu, ada Sungai Aji Kuning yang menjadi jalur transportasi speedboat yang hendak menuju Kota Tawau di Malaysia atau pun Kota Tarakan di Indonesia. Jalur perdagangan, terutama kebutuhan pokok sehari-hari masyarakat, antara Indonesia dan Malaysia banyak yang melintasi pelabuhan kecil ini.

Pulau Sebatik dengan luas wilayah 247,47 kilometer ini merupakan area perbatasan Indonesia-Malaysia. Bagian selatan Pulau Sebatik milik Indonesia, bagian utara berada dalam naungan Malaysia.

Pulau Sebatik di wilayah Indonesia, yang berada di Kabupaten Nunukan, terbagi ke dalam lima kecamatan. Kecamatan Sebatik dengan penduduk 1.353 jiwa, Kecamatan Sebatik Barat dengan penduduk 2.111 jiwa, Kecamatan Sebatik Timur (3.137 jiwa), Kecamatan Sebatik Utara (1.807 jiwa), dan Kecamatan Sebatik Tengah (2.075 jiwa).

Berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021, angka prevalensi stunting di Kalimantan Utara berada pada angka 27,5 persen. Prevalensi ini berada di atas angka prevalensi nasional 24,4 persen.

Sebagai bagian dari Kabupaten Nunukan, angka prevalensi stunting di Pulau Sebatik tentu mengikuti angka kabupaten berdasarkan hasil SSGI tahun 2021. Dari 5 kabupaten dan kota, Kabupaten Nunukan memiliki prevalensi stunting tertinggi yakni 30 persen. Angka stunting terendah di Kabupaten Tanah Tidung 22,8 persen.

Wilayah Pulau Sebatik dikelilingi perairan laut yang luas. Kebanyakan masyarakatnya memiliki sumber mata pencaharian sebagai nelayan. Namun masih banyak anak-anak yang mengalami stunting atau gagal tumbuh dan berkembang akibat kekurangan gizi kronis yang disebabkan infeksi berulang yang ditandai dengan tinggi atau panjang badan di bawah normal.

Berdasarkan data yang didapat dari lini lapangan, dari Puskesmas Sebatik Timur tercatat 183 balita mengalami tubuh yang pendek dan sangat pendek. Sedangkan di Sebatik Barat terdapat 66 anak balita yang berada pada kondisi stunting.

Kecamatan Sebatik Timur merupakan wilayah ekonomi dan perdagangan di Pulau Sebatik. Sebatik Timur memiliki jumlah penduduk yang lebih padat dibandingkan kecamatan lainnya. Pusat ekonomi dan perdagangan di Sebatik Timur berada di Desa Sungai Nyamuk

Dari 428 balita terdata pada Oktober 2022 ini, terdapat 58 anak berisiko atau mengalami tanda-tanda stunting di Desa Sungai Nyamuk. Desa Tanjung Harapan terdapat 48 balita mengalami stunting dari 211 balita yang terdata di Posyandu setempat.

Di Desa Bukti Aru Indah dari 263 balita, sebanyak 43 mengalami stunting. Demikian juga di Desa Tanjung Aru yang tercatat jumlah balita sebanyak 202 anak, 34 di antaranya stunting.

Sebagai pulau terluar dan terdepan di Indonesia, Pulau Sebatik mendapat perhatian khusus dari Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Timur.

Pelaksana Tugas (Plt) Koordinator Lapangan Program Bangga Kencana Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Provinsi Kalimantan Utara Kukuh Dwi Setiawan sudah mengerahkan seluruh Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) untuk gencar menyosialisasikan apa itu stunting dan cara mencegahnya kepada masyarakat di Pulau Sebatik.

Pada 2022 ini Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Timur juga telah beberapa kali melaksanakan Kampanye Percepatan Penurunan Stunting bersama mitra di Pulau Sebatik.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Timur Sunarto menegaskan kepada masyarakat untuk menghindari 4T atau 4 Terlalu yaitu terlalu sering/terlalu rapat jarak anak, terlalu banyak, terlalu muda, dan terlalu tua.

“Harapannya masyarakat akan lebih peduli tentang stunting, sehingga jika mereka memiliki pengetahuan tentang stunting maka kita dapat mencegahnya dari saat ibu sedang hamil dan bayi masih dalam kandungan,” kata Sunarto.

Pulau Sebatik dikelilingi laut yang merupakan sumber daya alam yang memiliki potensi besar sebagai sumber makanan bergizi bagi anak-anak. Seperti misalnya produksi rumput laut oleh masyarakat sekitar pesisir pantai. Begitu mudahnya untuk mendapatkan ikan dan berbagai jenis hasil laut lainnya yang dapat dikonsumsi setiap harinya.

Dengan dilaksanakannya Verifikasi dan Validasi Kasus Stunting di Provinsi Kalimantan Utara pada bulan Agustus lalu harapannya dapat dilakukan pemetaan daerah yang memiliki Keluarga Beresiko Stunting dengan angka prevalensi Stunting yang masih tinggi agar dilakukan tindakan pencegahan dengan melibatkan instansi lainnya yang tergabung dalam Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) yang diketuai Wakil Gubernur Kalimantan Utara Yansen Tipa Padan.

Penulis: Della dan Kristianto
Editor: ANW

Tanggal Rilis: Senin, 21 November 2022

Media Center BKKBN
mediacenter@bkkbn.go.id
0812-3888-8840
Jl. Permata nomor 1
Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur

Tentang BKKBN

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) adalah lembaga yang mendapat tugas untuk mengendalikan jumlah penduduk melalui penyelenggaraan program kependudukan dan Keluarga Berencana, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia melalui pembangunanan keluarga berdasarkan Undang-Undang Nomor 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.

BKKBN ditunjuk sebagai Ketua Koordinator Percepatan Percepatan Penurunan Stunting berdasarkan Peraturan Presiden nomor 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.