SEMARANG—Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengukuhkan Panglima Kodam IV Diponegoro Mayor Jenderal TNI Widi Prasetijono menjadi Bapak Asuh Anak Stunting dalam Malam Peduli Stunting di Balai Diponegoro, Kota Semarang, Senin (10/10/2022) malam. BKKBN juga mengukuhkan Novita Widi Prasetijono sebagai Bunda Asuh Anak Stunting.

Dalam pengukuhan Bapak dan Bunda Asuh Anak Stunting dilakukan oleh Kepala BKKBN Dr. (HC) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) itu, Mayjen TNI Widi Prasetijono mengajak semua pihak terlibat dalam upaya percepatan penurunan stunting.

Malam Peduli Stunting yang digelar BKKBN Perwakilan Jawa Tengah bekerja sama dengan Kodam IV Diponegoro bertajuk Gala Dinner Peduli Stunting itu dihadiri bupati dan walikota, pengusaha, serta filantropi yang ada di Jawa Tengah.

Acara ini bertujuan mengajak seluruh sektor, baik pemerintah maupun swasta untuk turut berkiprah nyata Bersama-sama membantu kelompok risiko stunting agar tidak menjadi stunting serta balita yang sudah terlanjur stunting agar segera dapat dientaskan.

Usai dikukuhkan, Pangdam IV/Diponegoro, Mayjen TNI Widi Prasetijono diminta untuk memberikan sambutan. Ia mengawali dengan penjelasan bahwa kasus stunting di Jawa Tengah ini harus menjadi perhatian bersama dikarenakan prevalensinya masih berada pada angka 20,9%. Meskipun menurutnya, angka tersebut tergolong rendah dibandingkan provinsi besar lainnya namun secara jumlah absolut terlihat besar karena jumlah penduduk Jawa Tengah yang besar pula. 

“Bagaimana masa depan kita akan bisa sukses dan berhasil khususnya di wilayah Jawa Tengah ini apabila masih banyak anak kita yang mengalami stunting,” kata Mayjen Widi.

Terlebih lagi menurutnya, pencegahan dan penanganan stunting ini menjadi perhatian besar Presiden dan masuk dalam program prioritas nasional. 

Selaku Pangdam, Mayjen Widi mengatakan telah menginstruksikan kepada seluruh jajarannya yang ada di Korem hingga Kodim dan Koramil untuk berpartisipasi dan mengambil peran aktif dalam berbagai kegiatan yang mendukung program pencegahan dan percepatan penurunan stunting di masing-masing wilayahnya. 

“Oleh karena itu, kami mengajak bapak dan ibu sekalian untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini. Mudah – mudahan dengan adanya kegiatan ini nanti bisa mengetuk hati bapak ibu sekalian untuk bersedia menjadi bapak dan ibu asuh dari anak – anak kita yang stunting ini agar yang berisiko stunting bisa terhindar dan yang sudah terlanjur (stunting) bisa terbantu,” kata mantan Komandan Jenderal Korps Pasukan Khusus (Kopasus) TNI ini. 

Senada dengan hal itu, Kepala BKKBN Dokter Hasto Wardoyo menjelaskan di hadapan para tamu undangan mengenai alasan stunting menjadi perhatian besar pemerintah. 

Menurutnya, indikator human capital index yang digunakan oleh seluruh dunia dalam mengukur kualitas sumber daya manusia suatu bangsa menjadikan tingkat intelektual dan skill sebagai salah satu tolak ukurnya. 

“Mengapa stunting dikaitkan dengan hal tersebut, karena yang menjadi ciri khas stunting selain pendek adalah kemampuan intelektualnya bisa di bawa rata-rata, dan nasibnya di usia empat puluhan lebih mudah menderita penyakit non-communicable disease atau penyakit tidak menular, seperti diabetes, serangan jantung sehingga bapak ibu sekalian mereka yang terkena stunting ini di mata dunia dianggap tidak bisa bersaing,” jelasnya.

 

Lebih lanjut Dokter Hasto menjelaskan bahwa ada dua faktor yang menyebabkan terjadinya stunting yaitu faktor sensitif atau lingkungan yang meliputi akses air bersih dan sanitasi, kondisi rumah tinggal, akses pangan bergizi, pelayanan gizi dan kesehatan serta kesadaran perilaku pengasuhan. Sedangkan faktor penyebab lainnya menurutnya adalah faktor spesifik yang berkaitan erat dengan asupan gizi dan status kesehatan.

 

“Sebetulnya kuncinya mudah untuk mencegah stunting, setelah anak usia enam bulan, telur ikan, protein hewani sudah sangat cukup. Tidak butuh yang mahal-mahal,” jelas Dokter Hasto.

 

Keanekaragaman pangan lokal yang ada di sekitar masyarakat menurutnya sudah cukup untuk memberikan asupan gizi seimbang bagi anak. 

 

Hal tersebut juga sesuai arahan Presiden Joko Widodo untuk menggelorakan penggunaan pangan lokal sebagai asupan gizi masyarakat Indonesia. 

 

Oleh karenanya, BKKBN bersama para mitranya melalui Gerakan Peduli Stunting, Bapak Asuh Anak Stunting, Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat), mencoba untuk memberikan kesadaran dan edukasi kepada masyarakat terhadap akses serta asupan gizi yang seimbang.  

 

Disamping itu, Dokter Hasto juga menegaskan akan pentingnya acara pada malam ini karena menjadi salah satu pendekatan program yang digunakan dalam penurunan angka stunting, yaitu pentahelix.

 

“Pendeketan ini melibatkan unsur pemerintah, swasta, perseorangan, perguruan tinggi serta masyarakat. Bentuk bantuan antara lain dapat berupa penyaluran dana sosial perusahaan atau CSR melalui program Bapak Asuh Anak Stunting,” jelas mantan Bupati Kulon Progo dua periode ini. 

 

Ia mengungkapkan juga bahwa Jawa Tengah oleh pemerintah pusat ditetapkan sebagai salah satu dari dua belas provinsi prioritas penanganan stunting. 

 

“Jawa Tengah harus memberi contoh bisa (mencapai) empat belas persen karena Jawa Tengah yang paling berpeluang untuk itu dibandingkan (provinsi) lainnya,” kata dia.

 

Rasa optimisme yang besar terhadap pencapaian target penurunan stunting di Jawa Tengah itu muncul karena ia melihat banyak program lintas sektor yang digencarkan, salah satunya oleh pemerintah provinsi Jawa Tengah melalui gerakan “Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng” dan “Jo Kawin Bocah”.  

 

Saat ini, menurut data yang dihimpun oleh Satgas Percepatan Penurunan Stunting, di Jawa Tengah hingga bulan Oktober 2022 terdapat 42.332 bayi dibawah dua tahun (baduta) yang mengalami stunting dan 30.877 ibu hamil yang berisiko melahirkan bayi stunting.

 

Jumlah tersebut merupakan sasaran intervensi utama yang Perwakilan BKKBN Jawa Tengah harapkan dapat dibantu melalui pembiayaaan yang diwujudkan dalam bentuk pemberian makanan sehat oleh para mitra kerja baik pengusaha, perusahaan maupun filantropi yang hadir dalam acara tersebut. Setidaknya ada sekitar 116 perusahaan, pengusaha, filantropi serta 35 Bupati dan Walikota yang hadir dalam momen Gala Dinner Peduli Stunting ini. 

 

Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Tengah, drg. Widwiono, M.Kes selaku penyelenggara kegiatan ini menegaskan kepada para calon pemberi bantuan bahwa pengelolaan dan penyaluran dana sosial kepada kelompok sasaran intervensi nantinya akan dikerjasamakan dengan Yayasan Langkah Hati Indonesia (YLHI) dan adapun feedback serta pertanggungjawabannya akan selalu dilaporkan secara rutin kepada para mitra kerja pemberi bantuan.  

 

Menariknya, pada acara “Gala Dinner Peduli Stunting” ini juga dimeriahkan oleh penyanyi dangdut yang sedang naik daun dan viral belakangan ini, Yeni Inka. Biduan cantik asli Blora ini tak hanya menghibur dengan melantunkan lagu dangdut di depan para tamu undangan, ia pun tak malu-malu mengajak para tamu undangan yang hadir untuk ikut memberikan sumbangsihnya melalui dana sosial yang akan disalurkan langsung kepada kelompok sasaran. n

 

Penulis: AFD

Editor: AHS

 

Tanggal Rilis: Selasa, 11 Oktober 2022

 

Media Center BKKBN

mediacenter@bkkbn.go.id

0812-3888-8840

Jl. Permata nomor 1 

Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur

 

Tentang BKKBN

 

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) adalah lembaga yang mendapat tugas untuk mengendalikan jumlah penduduk melalui penyelenggaraan program kependudukan dan Keluarga Berencana, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia melalui pembangunanan keluarga berdasarkan Undang-Undang Nomor 52 tahun 2009  tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.

 

BKKBN ditunjuk sebagai Ketua Koordinator Percepatan Percepatan Penurunan Stunting berdasarkan Peraturan Presiden nomor 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.