SEMARANG— Ratusan mahasiswa dari perguruan tinggi di Jawa Tengah akan memperkuat upaya percepatan penurunan stunting melalui program kuliah kerja nyata (KKN) Tematik.

Ratusan mahasiswa tersebut turun ke masyarakat dalam kegiatan Gong Ceting (gotong royong cegah stunting) dan dilepas dari pelataran Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, Minggu (09/10/2022).

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Dr. (H.C). dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K), mengapresiasi adanya program kependudukan dan stunting baik dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah seperti “Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng” maupun program Forum Rektor Indonesia (FRI) – Gong Ceting (Gotong Royong Cegah Stunting) yang akan mendampingi kinerja Penyuluh KB di lapangan terutama dalam penanganan stunting yang dapat berakibat tidak hanya pada pertumbuhan fisik dan kecerdasan namun juga penyakit seperti kardiovaskular.

“Jadi yang ada di desa itukan ada tim pendamping keluarga, disana ada bidan ada penyuluh KB dan PKK yang sudah punya data, nah ini para Mahasiswa yang KKN pasti akan berkaloborasi dengan tim pendamping ini khususnya terkait gizi buruk dan makanan seimbang,” ucap dokter Hasto pada kegiatan Kick off Kaloborasi Pendampingan Penurunan Stunting oleh Perguruan Tinggi melalui Gong Ceting (Gotong Royong Cegah Stunting) di Balkondes Borobudur Kabupaten Magelang.

Melalui Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT), sivitas akademika tidak hanya akan berpartisipasi pada penurunan angka stunting tapi juga mendapatkan pengalaman lapangan yang seringkali berbeda dengan teori. Menurut Hasto Wardoyo sumber ilmu yang mengajarkan tentang gizi seimbang itu datangnya dari kampus sehingga keterlibatan Perguruan Tinggi dalam penanganan stunting sangat penting untuk memberikan langsung penerapan ilmunya di masyarakat.

“Karena stunting ini relatif baru semua baru belajar, nah salah satu yang bisa sama sama untuk belajar ya Pergurun Tinggi kita akan berkaloborasi untuk program bangga kencana termasuk stunting,” ujarnya.

Peserta KKN Tematik Stunting diharapkan dapat membagikan inovasi atau pengetahuan terbaru yang sebenarnya bersumber dari kampus pada masyarakat, terutama dalam hal gizi. Misalnya lele sebagai sumber protein dan DHA yang terjangkau, atau beras fortifikasi mengandung zinc yang baik untuk kualitas sperma, serta pentingnya gizi seimbang untuk mencegah anemia pada catin perempuan serta Pimpinan daerah dapat berpartisipasi dalam memberikan kemudahan birokrasi.

Dokter Hasto berharap kegiatan ini bisa efektif untuk mempercepat penanganan stunting, karena yang mengajari tentang gizi seimbang itu datangnya dari kampus, selain dari pemerintah daerah.

“Menurut saya datangnya mahasiswa dari kampus itu penting sekali untuk memberikan penjelasan tentang kaidah-kaidah ilmu praktis yang bisa dilaksanakan di lapangan dan langsung kepada keluarga,” tambahnya.

Prof. dr. H. Hamam Hadi., MS. Sc. D.,Sp. GK, selaku Rektor Universitas Alma Ata Yogyakarta sekaligus Koordinator Perguruan Tinggi pendamping percepatan penurunan stunting di 14 kabupaten di Jawa Tengah dalam sambutannya menyampaikan target penurunan angka stunting 14% di tahun 2024 adalah pekerjaan berat dan penuh tantangan terutama untuk insan akademisi di Jawa Tengah.  

Hamam Hadi menekankan perlunya penyehatan lingkungan fisik dan non-fisik sehingga dapat menciptakan lingkungan yang melahirkan tokoh-tokoh bertaraf dunia dari Indonesia.

Dicontohkan beliau seperti Edinburgh yang melahirkan Einstein, Florence yang melahirkan DaVinci, atau California yang melahirkan Steve Jobs. 

“Saya memohon segenap jajaran pemerintah daerah di 14 kabupaten untuk membimbing dan mengarahkan para peserta KKNT saat melakukan pendampingan masyarakat sehingga target penurunan angka stunting di Jawa Tengah tercapai,” ujar Hamam Hadi

KKN Tematik Gong Ceting sebagai inovasi yang pertama dari FRI dan BKKBN dimulai 21 September lalu, para mahasiswa diharapkan melakukan sinkronisasi dan konvergensi program sehingga akan didapati perubahan yang signifikan. 14 kabupaten yang menjadi sasaran KKN tematik, antara lain Kabupaten Magelang, Brebes, Pekalongan, Pemalang, Grobogan, Blora, Sragen, Klaten, Demak, Jepara, dan Kota Tegal.

 

“Ini adalah pentahelik yang melibatkan pemerintah daerah, organisasi perangkat daerah terkait, masyarakat, dan perguruan tinggi,” katanya.

 

Bupati Magelang melalui Asisten Pemerintahan dan Kesra Kabupaten Magelang, Nanda Cahyadi Pribadi, AP. M.Si. menyampaikan, sudah menjadi tanggung jawab pemerintah bersama masyarakat untuk mencapai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai salah satu indikator kesejahteraan yang ditandai dengan meningkatnya sistem kesehatan masyarakat.

 

Berdasarkan Data Riskerdas terdapat penurunan stunting yang signifikan di Kabupaten Magelang, dari 37.58% (2017) menjadi 22.03% (2021), kemudian September 2022 ada di angka 14.06% (Data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Fisik Berbasis Masyarakat-EPPFBM). Tahun ini kabupaten Magelang meraih penghargaan terbaik dalam hal Pelaksanaan Kinerja 8 Aksi Percepatan Penurunan Stunting, dan di hari yang sama Dandim 0705 dikukuhkan menjadi Bapak Asuh Anak Stunting (BAAS) Magelang Raya. 

 

Bersama Gong Ceting diharapkan terjadi sinergi sehingga target penurunan angka stunting dan masyarakat sehat berkualitas dapat dicapai.

 

Gubernur Jawa Tengah melalui Kabid Kesmas Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Yuni Rahayuningtyas, SKM, M.Kes, menyampaikan bahwa berdasar Buku Saku Kesehatan Triwulan II 2022 tercatat di Jawa Tengah masih ada 2450 kasus balita gizi buruk, terdapat tren kenaikan sejak 2018. Sekalipun angka SSGBI 2019 dan SSGI 2021 menunjukkan perbaikan dan membuat peringkat Jawa Tengah naik menjadi provinsi ke-7 dengan prevalensi stunting terendah secara nasional, namun masih banyak upaya yang perlu dilakukan terutama untuk mengejar target angka stunting RPJMN 2024 di angka 14% dan SGD 2030 di angka 7%, disinilah dibutuhkan keterlibatan dari mahasiswa. 

 

Melalui Gong Ceting diharapkan mahasiswa dapat memberikan solusi intervensi kasus stunting berdasar kebutuhan spefisik di tempat masing-masing. 

 

Ketua Umum Forum Rektor Indonesia, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., IPU ASEAN Eng menambahkan supaya mahasiswa yang terlibat dalam KKNT ini dapat mengambil bekal ilmu dan kearifan lokal yang diamalkan di masyarakat setelah lulus nantinya.

 

Drg. Widwiono, M.Kes selalu Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Tengah menjelaskan bahwa kegiatan ini melibatkan 800 mahasiswa dan 140 dosen dari 16 Perguruan Tinggi di Jawa Tengah. Direncanakan berakhir di 22 Desember 2022 dengan sasaran program yaitu catin, ibu hamil dan baduta di 14 kabupaten di Jawa Tengah.

 

Sebagai tanda simbolis pelepasan mahasiswa peserta KKNT Gong Ceting dilakukan pemukulan Gong oleh Prof. dr. H. Hamam Hadi., MS. Sc. D.,Sp. GK, Dr.(HC). dr. Hasto Wardoyo, SP.OG.(K), dan Yuni Rahayuningtyas, SKM, M.Kes,. Turut hadir dalam kegiatan ini Deputi Dalduk BKKBN, Dr. Bonivasius Prasetya Ichtiarto, S.Si., M.Eng; PKB Utama BKKBN, Dr. Ir. Dwi Listyawardani; Rektor, perwakilan dosen dan mahasiswa dari Perguruan Tinggi pendamping kabupaten prioritas percepatan penurunan stunting; dan kepala OPD, camat, lurah dari 14 kabupaten serta Penyuluh KB Kabupaten Magelang. n

 

Penulis: BYP

Editor :  AND

 

Tanggal Rilis: Senin, 10 Oktober 2022 

 

Tentang BKKBN

 

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) adalah lembaga yang mendapat tugas untuk mengendalikan jumlah penduduk melalui penyelenggaraan program kependudukan dan Keluarga Berencana, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia melalui pembangunanan keluarga berdasarkan Undang-Undang Nomor 52 tahun 2009  tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.

 

BKKBN ditunjuk sebagai Ketua Koordinator Percepatan Percepatan Penurunan Stunting berdasarkan Peraturan Presiden nomor 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.