JAKARTA — Bullying atau kasus perundungan yang terjadi kepada anak, tanpa kita sadari dapat mengakibatkan beragam efek negatif yang ditimbulkan di masa depan. Terbaru, para orang tua wajib mengawasi serta mewaspadai perundungan terhadap anak-anak di media sosial (cyber bullying) yang marak terjadi saat ini.

Hal tersebut disampaikan Psikolog Anak Grace Sameve dalam acara Vodcast: Waktu Indonesia Berencana (WIB) yang disiarkan di kanal YouTube BKKBN Official dengan tema Generasi Berencana Bebas Bullying, yang dipandu oleh Aca sebagai hostnya.

Dalam vodcast tersebut, Grace menjelaskan  perbedaan antara perilaku nakal dengan perundungan. Nakal, menurut Grace adalah perilaku yang tidak sesuai dengan norma sosial atau lingkungan yang dilakukan anak karena berusaha mencari perhatian orang lain. 

Sementara perundungan adalah perilaku agresif dengan tujuan menyakiti orang lain. Bisa dalam tindakan fisik, psikologis atau yang terbaru siber bullying.

“Penyebab bullying beragam. Mungkin anak meniru, tapi karena nggak faham itu adalah bullying yang bisa menyakiti orang lain, tapi karena orang lain melakukan jadi ditiru. Kedua bisa saja anak ini sudah pernah dibullying sebelumnya. Ketiga karena lingkungan sosial, misal kalau mau masuk suatu geng maka harus melakukan tindakan bullying,” kata Grace. 

Grace menuturkan, faktor lainnya juga dipengaruhi oleh adanya bentuk pelapisan di berbagai masyarakat, khususnya di sekolah atau lingkungan pertemanan. Seperti tindak perundungan yang dilakukan anak pintar dengan anak yang bodoh, anak kaya dengan anak miskin, atau anak yang pemberani (mempunyai kuasa pertemanan) dengan anak yang penakut.

“Power in balance atau ketidak seimbangan kekuatan. Anak-anak yang ngebully dan dibully itu beda, anak yang ngebully itu biasanya lebih kuat atau mungkin ukuran badan lebih besar, lebih tua dan lain sebagainya,” ujarnya. 

Sementara itu, sambung Grace, mengenai bullying siber adalah segala tindakan perundungan yang ruang lingkup nya terjadi di dunia maya atau media sosial. Tindakan yang dilakukan tidak berupa serangan fisik, melainkan ancaman-ancaman berbentuk narasi yang membuat orang lain merasa terancam secara psikologis.

“Ancaman baru nih bagi anak, jenisnya banyak apakah menakut-nakuti atau kasih komentar yang menyakitkan, memalukan atau meretas akun seseorang, kirim pesan tidak pantas kepada orang lain,” jelasnya.

Grace menuturkan, dari perundungan yang terjadi dapat berdampak pada rasa tidak percaya diri, trauma, hingga gangguan kognitif pada anak. 

Faktor lingkungan terdekat sangat mempengaruhi perilaku perundungan anak-anak karena faktor dalam dirinya yang saling berinteraksi satu sama lain.

Oleh karena itu partisipasi dari lingkungan terdekat, terutama keluarga untuk melakukan identifikasi terhadap anak yang menjadi korban perundungan menjadi sangat penting. 

“Kuncinya melihat ada perubahan di anak tersebut. Perubahan itu yang tidak kita inginkan, misalnya dulu ceria sekarang jadi murung. Dulu sekolahnya nilai bagus sekarang jelek,” ujarnya.

Grace menambahkan, mengajarkan anak untuk berani menyuarakan apa yang dialamainya akan membuat anak menjadi lebih tangguh. Sehingga anak dapat tumbuh rasa percaya diri dan tidak takut terhadap segala sesuatu.

 

Oleh karena itu ada dua tahap yang bisa dilakukan. Pertama mengajarkan kepada anak apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan orang lain kepada diri anak. Kedua mengajarkan kepada anak untuk lebih peka terhadap dirinya.

“Kadang ada anak yang nggak mau ngadu takut dibilang cemen, masa gitu aja nangis, masa gitu aja ngadu. Nah itu penting ingatkan anak kita untuk jadi diri sendiri. Setiap orang punya toleransi yang berbeda-beda,” tuturnya.

Setelah itu, bekali anak untuk bisa melindungi dirinya sendiri dengan melakukan perlawanan. Misalnya kalau ada tindakan bullying di sekolah bisa berlindung atau mengadukan kepada wali kelas atau pergi ke ruang guru.

Dengan begitu, Grace berharap anak-anak dapat terlindung dari berbagai macam tindakan perundungan terutama yang marak terjadi di lingkungan sosial. Dengan terhindar dari kasus perundungan, besar harapan anak Indonesia bisa menjadi generasi yang unggul di masa depan. n (FBA)

 

Media Center BKKBN

mediacenter@bkkbn.go.id

0812-3888-8840

Jl. Permata nomor 1 Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur

Tentang BKKBN

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) adalah lembaga yang mendapat tugas untuk mengendalikan jumlah penduduk melalui penyelenggaraan program kependudukan dan Keluarga Berencana, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia melalui pembangunan keluarga berdasarkan Undang-Undang Nomor 52 tahun 2009  tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.

BKKBN ditunjuk sebagai Ketua Koordinator Percepatan Penurunan Stunting berdasarkan Peraturan Presiden nomor 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.