JAKARTA — Stunting atau gagal tumbuh kembang pada anak ternyata memiliki efek domino terhadap pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Stunting bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dr. (H.C.) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) dalam webinar Stunting versus Parenting: Tantangan Program Pencegahan Stunting BKKBN di Tengah Pola Pengasuhan Tradisional Keluarga, yang digagas oleh Badan Riset dan Inovasi Nasiona (BRIN), Selasa (09/08/2022).

Dalam paparannya, Hasto menjelaskan bahwa stunting berdampak pada tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit, dan dapat menurunkan produktifitas seseorang.

Tidak hanya itu, secara makro dampak yang ditimbulkan dari stunting adalah lambatnya pertumbuhan ekonomi, meningkatnya angka kemiskinan, dan terjadinya ketimpangan sosial. Pernyataan Hasto ini berdasarkan pengalaman dan bukti Internasional.

Hasto menyebut, kerugian yang dialami negara dari adanya stunting adalah hilangnya 11% Growth Domestic Product (GDP) hingga berkurangnya pendapatan orang dewasa hingga 20%.

Tidak hanya itu, jurang kesenjangan sosial juga semakin terbuka lebar akibat stunting dan mengurangi 10% dari total pendapatan seumur hidup, serta timbulnya kemiskinan antar generasi.

 

Berdasarkan data Organisation for Economic Cooperation and Development – Programme for International Student Assessment (OECD – PISA) tahun 2012, tingkat kecerdasan anak Indonesia ada diurutan ke 64 terendah dari 65 negara.

OECD – PISA sendiri melakukan penelitian dari 510.000 pelajar usia 15 tahun di 65 negara, termasuk Indonesia di dalamnya yang meliputi bidang membaca, matematika, dan science. 

Untuk menekan tingginya prevalensi stunting yang saat ini masih di angka 24,4%, BKKBN telah melakukan berbagai intervensi melalui kegiatan pendampingan keluarga, mulai dari calon pengantin (Catin), ibu hamil, pasca persalinan, anak 0-5th (anak 0-2 tahun prioritas).

Kepada calon pengantin, Hasto berpesan supaya laki-laki yang ingin menikah mengurangi kebiasaannya untuk merokok, menjaga pola makannya agar dapat menghasilkan sperma yang berkualitas 75 hari sebelum pernikahan.

Sementara pada perempuan, disarankan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan di fasilitas kesehatan terdekat untuk mengukur lingkar lengan atas, berat badan dan tinggi badan juga kadar hemoglobin (Hb) dalam darah.

Semua hal tersebut sangat penting menjadi perhatian seluruh keluarga di Indonesia, supaya dapat menghasilkan kehamilan berkualitas dan berbagai masalah mendapatkan penanganan langsung oleh pihak medis sejak awal.

Selain itu, juga dapat mengurangi terjadinya risiko kematian pada ibu dan bayi maupun terjadinya kekurangan gizi pada anak sejak dalam kandungan yang menyebabkan stunting. n (FBA)

 

Media Center BKKBN

mediacenter@bkkbn.go.id

0812-3888-8840

Jl. Permata nomor 1 

Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur

 

Tentang BKKBN

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) adalah lembaga yang mendapat tugas untuk mengendalikan jumlah penduduk melalui penyelenggaraan program kependudukan dan Keluarga Berencana, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia melalui pembangunan keluarga berdasarkan Undang-Undang Nomor 52 tahun 2009  tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.

BKKBN ditunjuk sebagai Ketua Koordinator Percepatan Penurunan Stunting berdasarkan Peraturan Presiden nomor 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting