JAKARTA—Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang dan stimulasi lingkungan yang kurang mendukung, ditandai dengan panjang atau tinggi badan anak berada di bawah standar.

Stunting berdampak jangka panjang hingga lanjut usia. Oleh karena itu stunting berdampak sangat buruk bagi masa depan anak-anak. 

Kepala BKKBN, Dr. (H.C.) dr. Hasto Wardoyo, SpOG (K) menjelaskan bahwa pada fase 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) terjadi perkembangan pesat otak manusia yang menentukan banyak hal bagi kehidupan setiap individu.

Sebelum 1000 HPK, kondisi otak masih terbuka dan proses perkembangan terjadi. Hingga 24 bulan kemudian atau tepat dua tahun, ubun-ubun depan dan belakang bayi menutup.

“Dalam 1000 HPK kemampuan dasar manusia berkembang. Ini jika terganggu prosesnya, terjadi stunting,” jelas dr. Hasto.

Sebenarnya, stunting sudah bisa terdeteksi dan dicegah sejak bayi masih berupa janin di dalam kandungan. Ibu hamil yang kurang memperhatikan asupan nutrisi akan lebih berisiko melahirkan anak dengan kondisi stunting. 

Pasalnya, asupan nutrisi yang pas seharusnya sudah dilakukan sejak anak masih dalam kandungan dengan cara Ibu hamil mengonsumsi makanan bergizi. 

Namun, apabila bayi sudah terlahir dengan panjang atau tinggi badan di bawah standar dan terindikasi stunting, orangtua bisa memberikan asupan gizi yang sesuai dengan kebutuhan anak dengan tepat sehingga risiko stunting bisa dikurangi.

Memasuki usia enam bulan, bayi membutuhkan asupan nutrisi lain selain ASI untuk mendukung tumbuh kembangnya. Namun, Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) yang tepat bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan nutrisi si kecil, melainkan untuk menghindari risiko terjadinya gangguan tumbuh kembang, termasuk stunting. 

Gangguan kesehatan ini memang sebaiknya mendapat perhatian. Pasalnya, stunting tidak hanya akan mengganggu pertumbuhan tubuh sang buah hati, tetapi juga bisa memicu munculnya gangguan kesehatan jangka panjang. 

Stunting pada anak bisa mengakibatkan terhambatnya perkembangan dan lemahnya sistem imun tubuh sehingga anak akan lebih mudah terserang penyakit. Selain itu, kondisi ini juga meningkatkan risiko munculnya gangguan pada sistem pembakaran hingga menurunnya fungsi kognitif anak. 

Bahkan, saat anak mengalami permasalahan gizi yang bisa dikatakan sangat parah, ia bisa saja kehilangan nyawa. Terkait kecerdasan, masalah stunting juga dihubungkan dengan perkembangan otak dan intelegensi anak.

Setiap orangtua harus memastikan gizi yang cukup pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sang anak. Hal itu akan berdampak pada kehidupan di masa depan yang lebih sehat.

Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk memperhatikan asupan nutrisi yang didapatkan anak dan orangtua perlu memastikan untuk memilih menu MPASI terbaik. 

Namun karena dikatakan sebagai pendamping ASI, pemberian makanan bayi ini tentu harus tetap dilakukan bersamaan dengan ASI. Supaya pemberian makanan bisa lebih optimal untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi. 

Idealnya, sejak baru lahir sampai usia 6 bulan bayi sebaiknya ia mendapatkan ASI eksklusif. Setelah usia bayi di atas usia 6 bulan, ia perlu diberikan makanan bayi atau mendapatkan ASI dan MPASI secara bersamaan. Namun jika memungkinkan, Anda masih bisa memberikan ASI sampai usia bayi genap dua tahun atau 24 bulan.

Mengutip dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ada empat strategi penting yang harus para ibu pahami saat memberikan MPASI di usia 6 bulan:

  1. Tepat waktu

Makanan pendamping ASI memang ada baiknya diberikan di waktu yang tepat alias tidak terlalu cepat atau lambat. Dengan catatan, hal ini disesuaikan kembali dengan kondisi kesehatan si kecil. Dalam beberapa kasus tertentu, dokter bisa saja menyarankan untuk memberikan makanan pendamping ASI sebelum 6 bulan.

  1. Memadai

Makanan pendamping ASI sebaiknya memenuhi kebutuhan energi, protein, mineral, dan vitamin untuk bayi. Dengan kata lain, berikan menu MPASI yang terdiri atas berbagai sumber makanan. Untuk mencegah stunting pada anak, otangtua bisa dengan memberikan menu makanan dengan kandungan gizi seimbang. Bagi anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, makanan sumber protein disarankan untuk ditingkatkan pemberiannya. Se baiknya orang tua memperhatikan konsumsi serat, gula, dan garam pada 1000 HPK diberikan dalam jumlah yang terbatas.

  1. Aman dan higienis

Segala proses dalam penyimpanan makanan bayi, mengolah, hingga menyajikan makanan padat sebaiknya dilakukan secara aman dan higienis. Sangat disarankan untuk menggunakan, cara, bahan, serta peralatan MPASI yang aman dan bersih.

  1. Pemberiannya secara responsive

Sama halnya seperti pemberian ASI, makanan padat yang disajikan untuk bayi juga sebaiknya mengikuti tanda bayi lapar dan kenyang. Jadi, ada baiknya untuk memberikan makanan saat bayi sedang lapar dan hindari memaksanya makan ketika ia sudah kenyang.

Perbaikan gizi pada anak menjadi sebuah kebutuhan penting pada 1.000 HPK dalam menurunkan angka prevalensi kekerdilan (stunting), maka pemenuhan gizi dan nutrisi saat MPASI pun sangat penting diperhatikan orang tua. n (AND) 

 

Media Center BKKBN

mediacenter@bkkbn.go.id

0812-3888-8840

Jl. Permata nomor 1 

Halim Perdanakusumua, Jakarta Timur

 

Tentang BKKBN

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) adalah lembaga yang mendapat tugas untuk mengendalikan jumlah penduduk melalui penyelenggaraan program kependudukan dan Keluarga Berencana, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia melalui pembangunanan keluarga berdasarkan Undang-Undang Nomor 52 tahun 2009  tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.

 

BKKBN ditunjuk sebagai Ketua Koordinator Percepatan Penurunan Stunting berdasarkan Peraturan Presiden nomor 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting